Langsung ke konten utama

Postingan

Krakatau 1883

Senja merah darah. Cahaya Bulan berubah kebiruan , tak lagi putih berpendar. Bahkan matahari terlihat kehijauan , tak lagi terang benderang. Hampir dua tahun lamanya, langit dunia seperti berubah menjadi sebuah kanvas raksasa. Dan kita semua tahu sekarang, siapa pelukisnya. Tapi, bayangkan itu terjadi ketika tidak ada internet . Tidak ada satelit. Tidak ada berita real-time di News Feed. Langit berubah menjadi merah menyala. Saking merahnya, di beberapa kota di Amerika Serikat orang-orang sempat mengira ufuk sedang terbakar. Di Norwegia , warna merah yang mengerikan itu kemudian dipercaya menjadi salah satu inspirasi visual bagi Edvard Munch ketika melukis The Scream . William Ascroft , pelukis di Inggris membuat ribuan sketsa tentang langit waktu itu yang berubah warna. Bukan kiamat. Bukan perang. Bukan akhir dunia. Hanya sebuah gunung yang meletus di Indonesia . Krakatau , 1883.

Si Belang, Si Botak dan Si Buta

  Agak lupa saya dengan alur kisah Israiliyat ini, dikarenakan hanya nyimak potongan hikmahnya saja subuh barusan, jadi versi lengkapnya kelewatan karena subuhan di Masjid yang berbeda jurusan. Alangkah baiknya saya kutip kisahnya saja yak, karena biasanya kisah Israiliyat ini banyak yang ajaib biasanya. Agak di luar nalar. Kita tidak boleh menyalahkan, tidak boleh membenarkan. Sumber orisinal ada di Hadist Shahih Imam Bukhari dan Muslim tentu saja. Dan ini representasi ala saya. Lebih tepatnya AI yang saya latih menjadi saya. *Apaan sih Ndri? Ya begitulah, baca aja dah! Semoga ada hikmahnya. Ada kisah tentang tiga orang. Satu kena kusta. Satu botak. Satu buta. Mereka miskin. Mereka menderita. Mereka ingin hidup normal. Allah sembuhkan. Allah kasih mereka harta. Dalam waktu singkat. Yang dulu kekurangan berubah menjadi berkecukupan. Tapi kemudian datang ujian. Ada orang miskin meminta bantuan. Dua orang menolak. Ketika diingatkan: “Bukankah dulu kamu juga seperti ini?” Mereka mala...

Sia

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Dar der dor banget memang ngeliat kelakuan petugas rakyat Indonesia menjalankan tugasnya. Kok bisa, masih manusia kan ya? Belum selesai urusan A bisa langsung lompat ke urusan T bahkan salto ke Z, tapi ya begitulah. Kita semua sudah tahu kenapa. Ada yang meraba kita memang sudah fase keempat di fase - fase zaman yang disebutkan dalam sabda Nabi. Jadi ya sebisa mungkin dinikmati, tetap waras dan jaga api. Waras, sehingga bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Jaga api semangat untuk memegang kebenaran meski bisa terbakar dan mati. Terus apa hubungannya tulisan di paragraf pertama Ndri? Oh, itu tentang obrolan saya di suatu siang dengan teman ngaji, kok bisa ya kelakuan manusia bisa sebegitu jahatnya? Padahal hidup berdampingan kan bisa? Gimana mereka - Anda Tahu Siapa - kok bisa ngelakuin genosida, memakan riba, merusak bumi dan segal...

Masih Tujuh Belasan

Apa yang membuat kalian warga Malaysia iri kepada Indonesia ? Selain keramahtamahan orangnya ketika bertatap muka? Baca utas di Threads itu kok jadi senyum sendiri, bersyukur, sedikit ngenes, tapi ada harapan juga dari jawaban - jawabannya tetangga sebelah. Tapi ya sudah, bahas yang lain saja yang masih berkaitan lah yak. Masih tujuh belasan. Tepatnya tujuh belasan ke lima puluh lima buat dia yang jarang kata - katanya saya abadikan lagi di label Ibuku blog ini, maapin ya Mak! Langsung anakmu eksekusi di dunia nyata soalnya. Haha. Iya, Ibu saya dilahirkan tepat di hari ini, tujuh belas Agustus tahun sekian. Tidak pernah dirayakan atau merayakan, tapi tetap dimeriahkan seluruh rakyat Indonesia. Hmm, tetap dimeriahkan walaupun petugas yang dibayar, ada saja kelakuannya. Ada saja gebrakannya. Eh, kok kesana lagi. Inginku berkata kasar. Wkwkwk Dah gitu aja. Dirgahayu Emak dan Republik Indonesia .

Mending

Kamu masih mending, kalau aku nggak tahu rasanya ditinggal pergi Ayah merantau. Karena sudah dari lahir ayahnya nggak ada di rumah, jadi biasa saja yak.  Begitulah nasehat 'mencoba bijak' saya kepada ponakan usia kelas satu SD di sore hari yang ditinggal ayahnya mencari penghidupan ke negeri seberang. Setelah paginya ditinggal dan sesenggukan, ditambah istri saya juga ikut-ikutan. Tapi malah lebih menjiwai dari sang ponakan. Bah! Akhirnya siangnya kami bertiga pergi ke wahana bermain, sebagai pengalih perhatian. Momentum yang pas memang saya pulang ke Malang, selain sebagai penghiburan. Juga dapat pembelajaran. Oh, ternyata begitu yak rasanya. Jadi, adu nasib jadi bahan nasehat dan perbandingan. Wkwkwk  Terus gimana caranya biar sukses dan banyak uang seperti CEO? *Tanya randomnya ke saya Eh, salah saya bawa dia tarik tunai ke ATM sampai muncul itu pertanyaan. Kebanyakan nonton dracin itu bocah keknya. Abisin jatah gagal yang banyak dan berteman dengan kesepian. *Jawab saya se...

Source Code

Ada perusahaan AI beli buanyak banget buku, termasuk yang sudah tidak dicetak untuk di scan untuk dimasukkan di database mereka untuk melatih AI . Sayangnya, setelah di scan bukunya dimusnahkan. Jadi banyak spekulasi. Dari sisi bisnis ya wajar, ibaratnya gue sudah beli, terserah itu buku mau gue apain-lah. Mau gue monopoli isinya ( source code ) biar perusahaan gue jadi yang terdepan, paling paham. Harus untung-lah, namanya juga orang dagang, haha. Iya juga sih, tapi kan nanti elo gampang kalau mau manipulasi. Ya, itu juga resiko. Jayalah perabadan mesin berpikir mandiri! Jaya! Jaya! Jaya! Terlalu menjiwai Ndri! Wkwkwk Paling tidak hikmah dari berita ini ada kesadaran. Kenapa ada satu kitab suci yang bisa dihafal jutaan manusia, ada ratusan ribu perkataan manusia yang tidak dilukiskan wajahnya bisa menjadi panduan dalam kehidupan. Dan tentu saja, ada Tuhan Yang Berkehendak menjaganya sampai akhir zaman.

Stages of Marriage

Bersama, kita akan mengarungi samudra luas. Berlayar menuju matahari tenggelam di penghujung cakrawala. Tempat pulang untuk Odysseus itu bernama, Penelope . Kira - kira itulah salah satu hikmah yang bisa saya dapatkan setelah menonton The Odyssey yang berdurasi kurang lebih tiga jam. Untungnya, tanpa direncanakan dan sudah rezekinya nonton di bioskop yang bisa sambil rebahan dan pesan makanan. Norak yak? Biarin napah! Haha. Kita semua sebenarnya kurang lebih sama seperti Odysseus. Sama seperti Penelope. Semingguan ini saya diingatkan lagi tentang makna pernikahan, apa itu ikatan. Baik dari internal maupun eksternal. Ada yang baru saja ditinggal meninggal. Ada yang baru memulai perjalanan. Ada yang sedang lucu-lucunya merawat anak titipan Tuhan. Ada yang berpisah karena ternyata berbeda tujuan. Ada juga yang baru memulai dari awal setelah berpisah, lalu bersama dengan jiwa yang baru dikenal. Ada juga yang masih dalam tahap penantian. Dan ada - ada yang lainnya, kemudian. Bagi saya sen...

Cut Off

Semakin dewasa alias tua, nggak pengen banyak drama dalam perjalanan kehidupan. Sat set gitu lah, iya nggak? Iyain aja. Ah, elu aja Ndri yang tua! Iya, okeh dah dari dulu jiwa gue memang tua. Wkwkwkw Nggak diajak, ya udah. Nggak dihargai , hargai balik, tapi murah lah. Haha. Nggak perlu nebak kenapa, karena kalau dilanjut jadi mengapa. Kita kan cuma perlu menilai dari yang terjadi saja, selebihnya, ya ndak tahu, jangan tanya saya. V : Biar nggak banyak pikiran bang, cut aja sudah. A : Gitu yak. Ok, laksanakan. Padahal saya aslinya nggak banyak pikiran, lha wong sudah diusahakan, diupayakan. Sisanya terserah Tuhan . Tapi saran dari istri, kebanyakan banyak benarnya.

Empathy

Gue lebih suka ngasih ke Pak Ogah daripada ke Peminta-minta dengan modal tampang dekil, apalagi masih muda. Setidaknya Pak Ogah ada effort ngatur lalin, ada kerjanya. Kata seorang partner bisnis, sekarang teman, dulu sekali yang teringat lagi Minggu ini. Awal-awal saya merasa kok ini orang nggak ada empatinya, tapi pengalaman dan kelamaan hidup di Jakarta sekitarnya jadi membuat statement diatas masuk akal sih. Apalagi pemicu keresahan ini gegara istri kok sering skip nggak ngasih kalau ada Peminta-minta yang skin-nya saja yang meyakinkan, tapi masih segar bugar, YTTA lah. Ditambah pagi waktu itu setelahnya ada bapak-bapak, lebih ke usia kakek - kakek yang memilih memulung botol bekas. Lebih make sense ngasih ke bapaknya kan? Walaupun dia nggak minta. Eh, malamnya saya beli Tongseng Kambing buat lauk, nggak bawa uang cash cuman bawa HP, ada dua orang Peminta-minta selama durasi menunggu pesanan dibuatkan. Satu, Pengamen yang nggak jelas lagunya apa, kalau ada yang ngasih langsung kelar...

Soal Kaya

Pantesan, orang kek gini nggak boleh dikasih kaya. Kalau dikasih, bisa dijadikan budak kita. Halah, itu Donal Bebek kaya dia. Kelakuannya bikin se-dunia pen nyubit ginjalnya. Kurang golden spoon apa dia? Jangankan Paris. Bumi ke bulan aja bisa keknya tiap tahun buat agenda. Lho, kok kesana? Itu kan memang sudah jatah karakter dia buat dijadiin villain dari Penciptanya. Buat contoh di zaman sekarang, buat teladan, sama kek Fir'aun , Qarun dan lain sebagainya. Terus memang ada contoh orang kaya yang baiknya kebangetan? Ada lah! Yang paling ekstrem sedekahnya aja bisa bikin inflasi sebuah negera, Mansa Musa namanya. Ok, terus hubungan sama pernyataan di awal-awal ini tulisan? Hubungannya pasti dengan uanglah. Uang nggak mengubah karakter seseorang, uang berfungsi sebagai katalis yang memunculkan sifat dan karakter asli yang selama ini terpendam oleh keadaan. Iya, pernah dong kita ngerasa begitu dengan seseorang atau sesebapak yang dikasih jabatan Presiden sebuah negera Kepulauan? Lh...

BTA

Kalau ada satu mata pelajaran di Sekolah Dasar yang membuat saya keluar keringat dingin tiap sesinya, sudah pasti ya mata pelajaran agama Islam. Matematika mah, biasa. Biasa dicubit minimal. Haha. Bukan soal sejarah, kisah Nabi-nabi . Kalau itu dengan bangga banyak yang nyontek saya. Tapi kalau soal baca tulis Al-Qur'an (BTA), itu momok mengerikan buat saya kala itu, nulis masih mendinglah, tapi kalau soal baca. Byuuuuh! Jangan ditanya. Siang itu dengan harap cemas saya sudah menghitung dari deret sebelah kanan ke kiri, giliran ayat mana yang akan saya baca dari surat Al Bayinnah . Setelah berhitung, ternyata saya dapat jatah baca ayat nomer empat, teman sebangku dapat nomer tiga. Perlu diketahui, ayat tiga itu cukup pendek. Mudah dihafal, beda dengan ayat nomer empat. Setengah mampus saya ngerayu teman sebangku itu buat tuker bangku, tapi memang tidak tahu diuntung itu mahluk. Wkwkwk Padahal dia itu jago bacanya, sorenya setelah sekolah selesai ikut TPA ( Taman Pendidikan Al-Qur...

Nggak Subuhan

Pekan ketiga, subuh. Itulah salah satu pagi di setiap bulan yang lumayan saya nantikan. Kenapa? Karena ada kajian tafsir dari seorang Ustadz yang entah kenapa saya cocok dengan pembawaannya. Apalagi nggak perlu jauh-jauh, ada di Masjid dekat rumah. Tafsirnya mulai dari surat - surat pendek , mulai dari kenapa surat itu turun, bahasanya dan ini yang paling kena, hikmahnya. Ada beberapa update di blog ini yang inspirasinya dari duduk mendengarkan kajiannya. Tapi ya, namanya ingin kan nggak selalu harus. Takdirnya tepat di hari H saya tidak bisa shalat di Masjid. Lha? Iya, Allah kasih saya bisul di atas mata kaki kanan yang lumayan guede, bikin puegel, kenceng bet kaki, sudah begitu pecah. Jadi jalan aja, teng! Ke ubun-ubun, Nikmatnya ya Allah! *Hahaha hiks. Shalat jadi gaya duduk, karena kalau berdiri teng - teng - teng ituh kagak nahan. Sudah duduk pun, ketarik kan? Iya, nggak usah dibayangkan. Tapi ya namanya shalat-kan wajib dilaksanakan, apapun kondisinya, yekan? Zakat bisa gugu...

Daulat

Sepuluh tahun keatas mulai dari sekarang, Amerika tidak lagi menjadi first world country , begitupun dengan negara-negara di Eropa. Mereka menjadi negara dunia kedua . Afrika dan Amerika Latin tetap menjadi negara dunia ketiga dan negara-negara di Asia Pasifik akan menjadi negara dunia pertama . Termasuk Indonesia . Tapi, semua bukan milikmu, punya China . Sebab China mau melakukan apa yang tidak mau kamu lakukan. Mbah Nun , entah kapan beliau berkata demikian. Saya hanya dengar dari beberapa reuploader yang ada di YouTube . Terus, Mbah menerangkan kondisi Indonesia ke depan, salah satunya orang rebutan jadi penjilat, biar kaya, biar keduman dengan anekdot, ceritanya khasnya yang... Hahaha. Tentu, seperti dokter. Menjelaskan apa penyakit pasti menjelaskan sekalian obatnya. Daulat . Berdaulat atas diri sendiri. Bukan karena katanya, karena sekolah, karena sistem yang sudah ada. Berdaulat, tahu kecenderungan, konsep, bakat, apa yang dititipkan oleh Tuhan. Lalu berbahagialah! Bekerjal...

Slow Travel

Bukan, ini bukan saya buka tour travel bernama Slow Travel . Tapi tentang bagaimana sebagian besar pihak telah kehilangan kenikmatan proses perjalanan ke tempat tujuan.  Kesusu, serba buru - buru, dan itu bukan saya apalagi kita, semoga. Tapi kalau ada yang mau ngide kolaborasi bikin travel perjalanan tanpa harus banget mikirin foto estetik, buat video cinematic. Just enjoy the moment, gas lah! Haha. Pernah suatu waktu kami, saya dan istri mencoba mengikuti jadwal perjalanan kolega ketika berlibur ke Jogja .  Dalam satu hari, ada sekitar enam sampai delapan tempat 'hits' yang harus dikunjungi untuk diabadikan menjadi sebuah konten algoritma . Indah hasilnya, tapi kami seperti kehilangan sesuatu. Iya, kenikmatan menikmati perjalanan yang lambat.  Sepertinya kalau nanti ada kesempatan liburan bersama, saya dan kolega harus berpisah dan bertemu di titik tertentu saja. Slow travel, menikmati apa yang ada di kiri dan kanan. Abadikan momen di memori internal. Dah gitu aja. 😶

Jangan Ajari Dia, Ikhlas

Matematika yang dia pakai beda dengan matematika kita. Begitu kesimpulan teman - temannya tentangnya ketika membahas tentang sandang papan kehidupan . Kalau setiap bulan setengah dari pendapatan suaminya hanya jadi angka yang mampir di rekeningnya. Bagaimana ikut patungan beli kambing atau sapi buat Qurban , sandwich generation . Wajar. Tapi, kalau pun bisa Qurban pasti hanya muncul di papan pengumuman. Begitu kata teman terdekatnya ketika membahas tentang apa itu pengorbanan di Hari Raya Kurban . Jadi, jauh sebelum napak tilas penyembelihan Nabi Ismail oleh Nabi Ibrahim untuk dikurbankan. Hampir setiap bulan, setiap hari dia sudah menyembelih ego-nya , sudah satu dekade berjalan. Tidak kelihatan dan memang bukan untuk diperlihatkan. Lalu apakah kehidupannya sengsara, nelangsa, biasa? Oh, tentu saja tidak kawan. Dia menjalani kehidupan yang lapang, puas dengan pilihan - pilihannya. Dan Tuhannya tentu saja tidak tinggal diam. Jadi, jangan ajari dia.

Melekat

Ada salah satu kesamaan antara saya dengan istri yang sepertinya perlu disyukuri dan maknai lebih dalam. Kami berdua tidak suka ada benda yang melekat dengan tubuh, terutama perhiasan . Istri tidak suka pakai, cincin, gelang, kalung apalagi jam tangan . Pun saya, boro - boro pakai cincin atau gelang misalnya. Pakai jam tangan saja kalau kepengen saja. Ah, elu nggak beliin kali Ndri! Eh, jangan salah. Waktu mengajak menikah saya tanyakan mau mahar perhiasan apa. Beneran apa saja, karena memang rezekinya ketika mau menikah sangat berlimpah. Sekarang juga sih, nggak kurang - kurang nikmat-Nya. Hehe. Istri malah memilih logam mulia saja. Ya sudah, saya terima dan tambahkan uang tunai beberapa. Pernah saya juga belikan jam tangan, ya, sesekali dipakai setelahnya entah pergi kemana-mana itu jam. Haiya! Benang merah yang bisa saya petik, kami berdua memang tidak suka ada yang melekat, terutama soal perhiasan, soal dunia. Belajar bahwa sebenarnya kami tidak memiliki apa - apa tanpa menafikan...

Ibu Rumah Tangga

Itulah kenapa, sebelum menikah saya sudah berkomitmen untuk istri, bahwa dialah ibu rumah tangganya , bukan ibuku maupun ibunya. Alhamdulillah. Komentar saya dalam sebuah utas di Threads . Kelihatan visioner ya? Tapi kalau ditarik ke belakang, jauh sebelumnya, jauh sekali rasanya. Kenapa? Karena perkataan itu terbentuk dari pengalaman yang diceritakan dan tidak diharapkan terulang di kehidupan saya, anaknya. Betul, pengalaman Ibu saya. Itulah kenapa syarat saya menikah adalah mempunyai sebuah rumah atau setidaknya tinggal. Dimana nanti menantunya berkuasa penuh, menjadi ibu rumah tangganya. Karena sebaik apapun dia, sebaik apapun menantunya. Ada peran yang tidak boleh digantikan dalam sebuah rumah tangga , karena apabila tidak demikian niscaya ada kejadian yang tidak menyenangkan diantaranya. Itulah kenapa pekerjaan di kartu identitas kependudukan ada namanya, ibu rumah tangga. Bukan untuk merendahkan, tapi karena itulah fitrah mulia seorang wanita . Jika tidak? Sebaiknya jangan gega...

Sirr - Jahr

Kenapa waktu sholat ketika matahari ada, bacaannya Sirr ? Karena dunia terlalu berisik, Tuhan sedang memberi jeda yang tenang. Dan kenapa waktu sholat ketika matahari tenggelam, bacaannya Jahr ? Ketika dunia telah diam, Tuhan memberi kesempatan bercengkrama dengan firman-Nya yang seharusnya dengan sangat kita perhatikan. Keterangan : Jahr (jahar) adalah mengeraskan suara saat membaca bacaan shalat (terdengar), sedangkan sirr (sirri) adalah melirihkan atau merendahkan suara (tidak terdengar orang lain). Jahr dilakukan pada shalat Maghrib , Isya , dan Subuh , sementara sirr dilakukan pada shalat Zhuhur dan Ashar .

Operasi Plastik

A : Say, masa ini Ria Ricis ? *Sambil nunjukin short video yang lewat di Threads V : Iya, oplas dia. Sudah lama. A : Oh, baru tahu. Kirain orang lain. Ah elu Ndri, kalo misalnya lu punya dana dan kesempatan juga mau kan? Hmm, iya sih. Tapi palingan ngalusin bopeng bekas jerawat sama nambalin nambahin gigi yang sudah ilang. Kalau sampai bikin pangling takut nggak diaku anak sama Emak ntar. Wkwkwk. Akan tetap saya pertahankan autentikasi wajah, yang mirip plek ketiplek sama almarhum bapak. Karena wajah inilah yang menjadi hujjah atas peristiwa masa silam. Ngomongin masa silam nggak lengkap kalau nggak bahas masa depan, itu nanti gimana yak yang sudah oplas ketika Hari Kebangkitan ?   Di Padang Mahsyar dihidupkan kembali seperti sebelum atau setelah oplas? Khawatirnya dia sendiri kaget sama dirinya sendiri, baik yang operasi wajah apalagi yang operasi ganti kelamin. Coba bayangkan?

Nikah Lagi

A : Kita nanti nikahnya nanti sederhana saja ya, akad , habis itu makan - makan dengan keluarga dan teman dekat. V : Siap bang! Itu dialog kira - kira, tapi kejadiannya asli, beneran. Menikah di hari Jum'at, Juli dua ribu enam belas. Kenapa? Iya, kenapa ya? Buat jadi contoh mungkin untuk generasi mendatang. Halah! Kejauhan. Haha. Tapi ya, semakin kesini semenjak Plandemic Covid makin realistis kan opsi nikah sederhana ? Ya, kecuali punya previlege orang tua kaya raya, atau memang sudah sukses sebelum usia dua puluh tahunan. Monggoh lah, dimulai pestanya. Jadi poin tulisan ini apaan? Ya, kalau merasa sudah sekufu , visi - misi , frekuensi , vibrasi . Gas lah, nikah. Meski cuma akad di KUA , misalnya. Jauh dari zina , jadi punya belahan jiwa . Halal !