Langsung ke konten utama

Postingan

Nikah Lagi

A : Kita nanti nikahnya nanti sederhana saja ya, akad , habis itu makan - makan dengan keluarga dan teman dekat. V : Siap bang! Itu dialog kira - kira, tapi kejadiannya asli, beneran. Menikah di hari Jum'at, Juli dua ribu enam belas. Kenapa? Iya, kenapa ya? Buat jadi contoh mungkin untuk generasi mendatang. Halah! Kejauhan. Haha. Tapi ya, semakin kesini semenjak Plandemic Covid makin realistis kan opsi nikah sederhana ? Ya, kecuali punya previlege orang tua kaya raya, atau memang sudah sukses sebelum usia dua puluh tahunan. Monggoh lah, dimulai pestanya. Jadi poin tulisan ini apaan? Ya, kalau merasa sudah sekufu , visi - misi , frekuensi , vibrasi . Gas lah, nikah. Meski cuma akad di KUA , misalnya. Jauh dari zina , jadi punya belahan jiwa . Halal !

Fast Living

Slow Living itu orang gagal lalu menepi. Agak provokatif? Iya, itu click bait dari sebuah YouTube thumbnail . Tapi ada benarnya nggak sih? Belum saya nonton tapi, mungkin nanti. Sudah banyak yang bahas apa itu slow living baik secara definisi maupun eksekusi. Tapi belum terlalu kelihatan yang bahas sebaliknya. Ada akibat pasti ada sebabnya. Nah sebabnya ini yang harus dielaborasi dulu seharusnya. Menurut keyakinan saya. Kadang kita terlalu bangga dengan kata “cepat”. Cepat kerja. Cepat selesai. Cepat berhasil. Seolah-olah yang cepat itu pasti benar. Saya sering lihat, dan mungkin kita juga pernah *Ah lu aja Ndri.  Ketika ngerjain sesuatu sambil buru-buru, hasilnya justru banyak yang terlewat. Ada yang salah. Ada yang kurang. Ada yang harus diulang. Akhirnya yang tadinya mau hemat waktu, malah jadi buang waktu yak? Hari ini, hidup di zaman yang semuanya kalau bisa dipercepat. Makan ingin cepat. Belajar ingin cepat. Sukses juga pengennya cepat. Apa benar hidup harus selalu cepat? A...

Panoramic

Anonim 1 : Kereta apa ini? Kereta horang kaya pasti. Anonim 2 : Ini berapa tiketnya? Mirip sama Whoosh. Anonim 3 : Keren bet keretanya. Setidaknya itu komentar beberapa teman ketika saya update stories naik kereta wisata Panoramic . Mereka nggak tahu aja kalau beli tiketnya pakai kasbon bulan April. Wkwkwk Tapi tak mengapa lah, demi pengalaman, demi menyenangkan istri, demi kejutan di hari Anniversary . Nggak seratus persen kejutan sih, karena awalnya memang saya beli tiket biasa buat pulang Bandung - Bekasi . Lalu upgrade diam - diam tanpa sepengetahuan istri. Rencananya tidak mau saya beritahu sampai waktunya pulang hari Senin. Tapi ya, karena sudah tahu punya istri agak laen, antimainstream. Ya sudah, di kereta perjalanan berangkat saya beritahu saja. Karena saya sudah tahu ekspresinya nanti. Hiks. Q : Eh Ndri, bukannya lu nikah bulan Juli ya? A : Iya, betul. Q : Terus kenapa Anniversary-nya April? A : Eh, mohon maap kita nikah di Bulan Syawal . Pake kalender Hijriyah bo...

Bersamamu

Penyusup, itulah kata awal yang kusematkan untuk kehadiranmu yang kala itu serasa mengganggu. Lalu seiring berjalannya waktu, asam garam, jatuh bangun, kata itu berubah menjadi, teman hidup . Bersamamu. Awalnya tak pernah terlintas bagaimana caranya. Tapi ternyata caranya sendiri yang datang menjawab semua pertanyaan semua kemustahilan. Asal, bersamamu. Sekarang, aku ingin membuat pertemanan ini manjadi abadi, tidak terikat waktu, tidak menua, tidak ada akhirnya. Dengan usaha, dengan tunduk pasrah dengan segala ketentuan-Nya . Dalam kesempitan dalam kelapangan. Dalam ketidaksempurnaan yang berharap sempurna, masih bersamamu. 17 Syawal 1447 Hijriyah .

Menjadi Manusia

P : Gimana, bapak gue ada? Sudah ketemu kan? Kalimat itu terdengar biasa saja. Tapi bagaimana kalau kalimat itu keluar dari seorang anak yang siang tadi menguburkan bapaknya? Keluar dari seseorang yang berusaha saya dan teman - teman hibur malamnya. Keluar ketika ada tamu yang datang ( katanya teman SMP ) ke Rumah Duka? Dark jokes jadinya kan? Tapi mungkin, karena memang yang berkata sudah selesai dengan dirinya. Memang agak laen sih orangnya. Haha. * Ketawa dosa Tapi itu jugalah yang membuat sirkelnya mau datang jauh-jauh ke rumahnya dari Bekasi ke Pamulang sana. Termasuk saya, entah kenapa. Bicara sirkel, inilah lingkaran yang membuat saya merasa menjadi manusia Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika. Penasaran kenapa? Nanti saya bahas kapan - kapan yak! Wkwkwk Dah gitu aja.

Tunggu Aku Sukses Nanti

Mata saya berkaca - kaca saat adegan bapaknya Arga menyatakan bangga dan meminta maaf, soal keadaan keluarga yang membuatnya memikul beban yang tidak seharusnya dia pikul sendirian. Sebagai fatherless person, saya menduga mungkin begitulah ternyata rasanya punya sesosok "Ayah Sungguhan" di keluarga. Iya, adegan itu mengandung bawang. *Hiks Film ini mengajarkan soal apa itu validasi, angka cukup dan artinya manjadi dewasa itu sendiri. Juga ini, jangan berburuk sangka. Sebuah pesan plot twist. Itu kenapa saya nonton dua kali, pertama dengan istri, kedua dengan mertuanya istri. Jadi, rekomendasi? Wajib! Wahai kawanku yang ingin merasa dicintai agar tidak kehilangan diri. Hihi.

Amal Andalan

  Sembunyikan amalanmu sebagaimana Dia menyembunyikan aib-aibmu. Di tengah keramaian ibadah yang bisa divalidasi menjadi citra diri, sepertinya kuwot yang saya tulis di dua ribu sembilan belas diatas masih relevan, in this economy. Tentunya setiap kita, bukan, tapi saya. Tidak akan mungkin mencontoh amalan Nabi seratus persen, jangankan seratus, lima sampai sepuluh persen saja rasanya sudah, wah sekali. Maafkan kami ya Nabi. Kiranya Engkau sudi kami akui sebagai satu-satunya pemberi syafaat di Hari Akhir nanti. Ijinkan kami. Karenanya, setiap kita, eh saya maksudnya. *Iya maap, ngapain ngajak-ngajak yak Harus punya amalan andalan yang konsisten, yang mungkin tidak populer, tapi bisa kita banggakan, setidaknya. Bukan di dunia ini, murah sekali. Tapi nun jauh disana nanti. Di hadapan Pemilik Awal dan Akhir hari, dan tentunya Engkau juga wahai Nabi. Terus amalanmu apa Ndri? *Halah di awal kan udah ditulis sih, malu sama aib   Ok, biar ada gambaran. Asisten saya a.k.a Kecerdasan...

Tanpa Penyesalan

E : Mama tidak ada penyesalan sama sekali selepas kepergian Simbah, Le. Statement yang bold sekali, dan saya bersaksi bagaimana perjuangan, perjalanan seorang anak perempuan yang berusaha membahagiakan Ibunya , dimana itu bukan kewajibannya. Hidup tanpa penyesalan . Itulah kata yang sebisa mungkin diupayakan bisa juga saya ucapkan kelak. Terkadang bukan pilihan yang selayaknya dipilih manusia pada umumnya. Tapi sejak kapan standar selayaknya manusia itu jadi pilihan yang tepat? Kadangkala, jalan yang dipilih itu sunyi. Tidak banyak yang mengerti. Tapi disitulah, kata hidup tanpa penyesalan menemukan arti.

Ketemu Simbah

Awal Ramadhan seribu empat ratus empat puluh lima , saya tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan Simbah . Di kamar hotel Le Meridien Towers Makkah , bada Ashar setelah seharian saya terbaring di ranjang dikarenakan kelelahan, lemas. Masuk angin tepatnya, setelah umroh pertama sehari sebelumnya. "Le, matur nuwun ya. Matur nuwun, matur nuwun". Begitu ucapnya setelah mendekati saya dari arah Jendela, didampingi oleh seseorang yang tidak jelas wajahnya. Saya yang belum siap mencerna apa yang terjadi, hanya bisa mengangguk kepala pelan tanpa bisa menjawab. Simbah tersenyum, lalu pelan-pelan pergi bersama orang yang bersamanya. Mirip adegan ketika Thanos menjentikkan jari ketika berhasil mengumpulkan Infinity Stones , klik! Lalu separuh populasi manusia menghilang. Saya terbangun, haru, merinding tentu saja. Tengok kanan - kiri dan tidak ada siapa-siapa kecuali roommate saya di kamar sebelah. Setelahnya saya video call Ibu di rumah, dan bercerita tentang ' peristiwa ast...

Month of the Soul

Ramadhan adalah bulan untuk ruh atau jiwa mendapatkan haknya. Sebentar, jiwa dan ruh itu entitas yang berbeda. Begitu juga dengan sukma. Ruh adalah... *Bukan itu fokus tulisan ini Ndrie. Iya yak. Lain kali bahasnya bisa kale? Coba komentar di bawah. Eh. Berhenti sejenak, memberi kesempatan jiwa untuk disapa, ditanya, bagaimana kabarnya? Ramadhan memberikan kesempatan itu semua, lewat berpuasa , shalat malam,  membaca firman-Nya , bersedekah , berzakat sampai beri'tikaf . Adakah dia baik-baik saja? Atau mendapatkan duka di sebelas bulan sebelumnya? Lelah yang bertambah - tambah, tanggung jawab yang seolah-olah tidak ada jedanya sebentar saja. Ramadhan memberikan jawaban, bukan sebentar, sejenak, tapi satu bulan penuh kesempatan. Sayang kalau disia-siakan bukan? Dan, apakah di penghujungnya, kita benar-benar sudah mendapatkan ketenangan, kemenangan? Untuk jiwa, Ied Mubarak !

Riqz Leveling

Menurut Syekh Mutawalli asy-Sya'rawi , terdapat 4 level rezeki dari Allah yang mencakup materi hingga spiritual. Urutannya dimulai dari yang terendah adalah harta (materi), kesehatan (fisik), anak yang saleh (keturunan), dan ridha Allah (spiritual) sebagai yang tertinggi dan paling sempurna. Mungkinkah manusia mendapatkan semuanya? Hmm, sepertinya memungkinkan sekali bagi kita semua meraih yang ke-empat. Di stage level berapa pun saat ini, yang ke-empat lah yang paling harus diupayakan, diusahakan. No matter what! *Aseek keminggris Karena menurut sudut pandang saya, kita semua pasti diuji di ketiga level sebelumnya. Dengan goal setting untuk level up ke stage ke-empat. Jadi, paham dengan senda gurau permainan di dunia. Menjadi bekal, keyakinan yang kuat untuk menghadapi proses menuju kehidupan selanjutnya. Jangan salah dalam bersikap. Sekali, bolehlah.

Limpah

Untuk merasa berlimpah, harus tahu dahulu dimana batas kecukupan. Kalau tidak, sejauh manapun dikejar, berusaha didapatkan. Tidak akan pernah hadir rasa berkelimpahan. Jadi ingat cerita obrolan seorang Nelayan dan seorang Pengusaha yang sedang liburan disambi mencari peluang di Pelabuhan. Posisi Nelayan sedang santai disambi ngopi, merokok dan menikmati pemandangan. Perahunya sudah menepi, jaring sudah dilipat. Ikan hasil tangkapannya juga sudah cukup memuaskan. Pengusaha itu heran. “Kenapa anda tidak pergi menangkap ikan lagi?” tanyanya. Nelayan itu menjawab santai, “Ikan yang saya tangkap sudah cukup untuk makan hari ini.” Pengusaha itu masih belum puas dengan jawabannya. “Kalau anda menangkap lebih banyak ikan, bisa dapat uang lebih banyak.” Nelayan itu bertanya, “Lalu?” “Anda bisa beli mesin untuk perahu. Bisa melaut lebih jauh. Bisa dapat ikan lebih banyak.” Nelayan itu mengangguk kecil. “Lalu?” “Anda bisa beli jaring yang lebih besar. Hasil tangkapan makin banyak. Uang makin bany...

Buka Pake Permen

Rencana ke Tuas, Takdir ke Woodlands Bermula dari pembelian tiket pesawat yang random tanggalnya, pokoknya harga promo mentok antara berangkat dan pulang. Budget nggak boleh lebih dari tiga jutaan buat berdua, pilih tanggal dan ternyata menjelang keberangkatan baru tahu tepat pas awal Ramadhan . Akhirnya tanpa sengaja kami merasakan vibes berpuasa awal di negeri orang, Minggu keempat di bulan Maret–April 2023 tanpa persiapan. Sudah menjadi ritual, kalau ke Singapura bisa dipastikan kami juga ke Malaysia , seperti turis kebanyakan. *Aseeeek Lebih tepatnya karena nggak perlu ada budget buat penginapan. Durasi kami berkunjung paling lama setengah bulan, paling sedikit semingguan tambah satu-dua harian. Jadi, tahulah. Tidak ada itinerary, mengalir saja. Dibagi dua untuk jatah hari-harinya. Seminggu di sini dan seminggu di sana. Dan begitulah awalnya. *Buset panjang bener opening-nyah yak wkwkwk Jatah kami ke Malaysia, Pak Lek yang di sana sengaja mau menjemput.  Biasanya kami dari kel...

Pamer Bacaan

A : Ma, mau denger bacaanku sekarang nggak? E : Boleh. Baca beberapa ayat. A : Gimana? Nggak bunyi kan? *Bangga E : Iya, dah belajar dua tahun masa nggak lancar. Nggak bunyi maksudnya, autocorrect bacaan Istri tidak berfungsi. Iya, kami bertiga di ruangan yang sama sedari tadi. Begitu baca taawudz , Istri langsung standby menghampiri. Siap untuk melakukan koreksi, oh tidak kali ini, baby! Haha. Sudah cukup lama di blog ini label Ibuku tidak pernah update. Padahal mah, walau beda rumah setiap Minggu saya dan Ibu selalu nge-date.

Ridha

Ya Allah, saya tidak lagi menjadikan uang sebagai sumber ketenangan. Saya fokus memberi nilai dan berikhtiar. Rezeki adalah urusan-Mu, usaha adalah urusanku . Begitu isi salah satu  utas  di threads yang saya komentari. Oh ya, seminggu belakangan saya jadi member aktif. Bukan buat utas, mancing engagement, nyari followers, terus jualan, bukan. Cuman rasanya ngasih komentar random disana sedikit bikin kecanduan. Terus elu komentar apaan gaes? Oh iya, kurleb: A : Jadi, sumber ketenangan dari? *bertanya dengan serius B : Dari yang Maha Penyayang... A : Ridha dari Pemilik Langit dan Bumi . B : 👍👍👍 Eh, pagi ini langsung dikasih baca dari sumber segala sumber. Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn . Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. At-Taubah : 72 .

The Prophet Bloodline

    Bisa jadi mereka mau cek ombak dengan dibukanya file itu, bahwa kita ternyata cuma bisa baca, tahu, bahas dan nggak bisa ngapa - ngapain akhirnya. Hei! Tunggu sebentar kawan. Argumen itu langsung terbantahkan dengan lewatnya stories feed teman saya, bisa jadi salah satu mentor awal di dunia digital marketing , suka khalwat , ziarah . Tidak perlu sebut nama, anda tahu siapa. Apa isinya? Bahwa tidak perlu khawatir, mereka boleh berencana. Tapi, Allah dengan kekasih-kekasih-Nya juga berencana. Bisa jadi ada dari mereka yang jadi Elit Global, Direksi Bank di Swiss, ataupun Tokoh Strategis di Militer yang siap ketika waktunya tiba. Ingat Pangeran Diponegoro , ingat Timur Lenk . Bisa mengguncang perusahaan dagang VOC , bahkan menguasai wilayah Asia Tengah. Terus kenapa judul post kali ini keminggris Ndri? Hmm, ini jadi membawa saya ke era dimana lagi asyik-asyiknya membaca dunia konspirasi . Jaman Kaskus , Karkun Channel, Wake Up Project, The Arrival dll jadi santapan sehari-har...

Perkongkowan Sabtu Minggu

Saya cukup lama follow akun @bapakID , lupa kapan tepatnya. Maklum ya pak. Post paling saya suka seputar tips dan rekomendasi, bahkan adalah saya beli sesuatu karenanya. Eh, ujuk - ujuk Istri nyeletuk, "Bang ikutan ini dah, biar kamu ada pergaulan". Lah, bukannya selama ini kita saling menggauli yak? Ya, akhirnya biar cepat dan doi senang, saya iyain aja lah.  Oh ya, background saya kerja di rumah sejak Lazada , Gojek dkk baru mulai dikenal. Udah gitu, tinggal di komplek pensiunan. Kebayang kan pak? Jadi sebenarnya nggak perlu surat ijin, auto approved lah buat ikutan. Batch Dua Eh kepilih, Persami batch Satu. Tapi karena tanggal bentrok ada acara keluar kota di tanggal yang sama. Saya minta kalau diperkenankan ikutan batch Dua. Dan terjadilah. Ternyata... Di Perkongkowan Sabtu Minggu ini saya banyak belajar, kenalan dan tentunya senang - senang. Acaranya banyak becanda khas bapak - bapak pada umumnya, tapi soal kepengurusan nggak ada obat. Apalagi hadiahnya! Ya walaupun n...

Perkara Bubur

V : Kita sarapan apa hari ini? A : Bubur ayam yang lewat rumah aja kali yak? 07.00 07.30 08.00 08.30 Kok nggak lewat - lewat nih tukang bubur? Apa lagi naik haji? Sering ngalamin kejadian seperti ini? Bisa terjadi juga ketika nungguin tukang bakso, nasi goreng sampai nunggu keajaiban. Halah. Dan plot twistnya adalah, besoknya kami, saya dan istri sepakat sarapan yang lain. Ketika mau makan, si tukang bubur pun lewat. Bah! Yang kita inginkan tak selalu yang kita butuhkan, iya lagi iya lagi. Jadi, memang kita boleh berancana. Tukang bubur jualannya suka - suka dia.    

Warna

  Diwarnai dan mewarnai. Itu kesimpulan kami, saya dan istri. Ketika selesai melihat beberapa vlogger diaspora Indonesia di luar negeri. Terutama yang sudah menikah, terlihat jelas sekali dengan melihat keadaan anak - anaknya. Eh, Ndri.. wait. Ini bahas apaan sih? Ini bahas lukisan kan? Pelukis kan? Bukan, ini lebih dalam dari itu semua. *Aseeeek “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah ; kedua orang tuanyalah yang menjadikannya penganut agama Yahudi , atau Nasrani, atau Majusi .'' Hadits Riwayat Abu Hurairah , Shahih Muslim . Kan, kata gue juga apa, rada berat kan? Namanya juga kedalaman. Haha. Jadi, tahu soal diri sendiri sebelum mewarnai atau diwarnai jelas perkara yang wajib dilakukan bukan? Dan bisa dilakukan, jika.. Hening, tenang dan tentu saja itu ada dalam kesendirian. Dalam jeda diantara banyaknya distraksi dan riuhnya dunia. Baik dari yang nyata apalagi yang maya. Hei! Selamat datang!

Garwa

Di ujung senja merah dan disamping jiwa yang sedang menghadap-Nya. Aku ingin mengabadikan peristiwa dari aliran waktu yang ingin terus aku habiskan bersamanya. Lewat kata yang coba kurangkai seindah mungkin untuk bisa dibaca. Bahwa.. Aku ingin berterimakasih sebanyak mungkin kepada Ibu yang telah melahirkannya. Kepada Dia yang telah menulis lewat pena takdir bahwa harus bersamanya dalam menghadapi dunia dan segala isinya. Lebih dan kurang, tidak ada yang sempurna. Kurang dan lebih aku pun demikian. Tapi bukankah memang yang berlawanan seringkali merupakan pasangan yang ditakdirkan?