Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Self Talk

Warna

  Diwarnai dan mewarnai. Itu kesimpulan kami, saya dan istri. Ketika selesai melihat beberapa vlogger diaspora Indonesia di luar negeri. Terutama yang sudah menikah, terlihat jelas sekali dengan melihat keadaan anak - anaknya. Eh, Ndri.. wait. Ini bahas apaan sih? Ini bahas lukisan kan? Pelukis kan? Bukan, ini lebih dalam dari itu semua. *Aseeeek “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah ; kedua orang tuanyalah yang menjadikannya penganut agama Yahudi , atau Nasrani, atau Majusi .'' Hadits Riwayat Abu Hurairah , Shahih Muslim . Kan, kata gue juga apa, rada berat kan? Namanya juga kedalaman. Haha. Jadi, tahu soal diri sendiri sebelum mewarnai atau diwarnai jelas perkara yang wajib dilakukan bukan? Dan bisa dilakukan, jika.. Hening, tenang dan tentu saja itu ada dalam kesendirian. Dalam jeda diantara banyaknya distraksi dan riuhnya dunia. Baik dari yang nyata apalagi yang maya. Hei! Selamat datang!

Garwa

Di ujung senja merah dan disamping jiwa yang sedang menghadap-Nya. Aku ingin mengabadikan peristiwa dari aliran waktu yang ingin terus aku habiskan bersamanya. Lewat kata yang coba kurangkai seindah mungkin untuk bisa dibaca. Bahwa.. Aku ingin berterimakasih sebanyak mungkin kepada Ibu yang telah melahirkannya. Kepada Dia yang telah menulis lewat pena takdir bahwa harus bersamanya dalam menghadapi dunia dan segala isinya. Lebih dan kurang, tidak ada yang sempurna. Kurang dan lebih aku pun demikian. Tapi bukankah memang yang berlawanan seringkali merupakan pasangan yang ditakdirkan?  

Henti

  F : Lho mas, si Farhan mobil remote control-nya ada tiga. A : Tapi ya nggak dirumat ya, karena nggak ada saingan. Nggak ada yang ngajak baku hantam buat rebutan itu mainan. Haha. Kata René Girard , dosa terbesar manusia adalah keinginan meniru, manusia tidak punya keinginan asli. Semua keinginan kita dipinjam dari orang lain. Kita menginginkan sesuatu karena orang lain ingin. Make sense nggak? Apalagi dengan adanya social media, yang dengan mudahnya membuat kita, saya terpengaruh dengan keinginan algoritma . Oleh artificial intelligence yang seakan-akan mengerti sekali soal keinginan kita. Jadi, berhenti sejenak. Bicara dengan diri sendiri tentang keinginan-keinginan, adalah tirakat yang perlu dilakukan. Perlu diusahakan. Iya kan?

Mazhab Jalan Panjang

Q = Kerja dimana Mas? A = Di rumah :D *Nyengir Q = Haha... :D 1 Desember 2012. Kalau dialog diatas diulang di tahun sekarang, mungkin sudah biasa saja. Tidak terlalu aneh, sudah lumrah, sudah banyak yang demikian. Terus kenapa? Hmm, mau cerita aja. Kemarin ketemu temen lama, harapannya ada kolaborasi antara aku dan dirinya dengan peluang apa saja dari yang sudah dibicarakan. *Eeaaaa Terus apa hubungannya? Ya, dihubungkan. Tentang pilihan, bahwa saya lebih suka memilih jenis bisnis yang urusannya panjang. Meski saya kerjakan dari rumah, sebisa mungkin dampaknya bisa kebanyak orang. Seperti petuah dari Guru kita semua, Anda tahu siapa. Tidak selalu tentang uang, tapi tentang kebermanfaatan dari keberadaan. Ya, kalau uangnya banyak saya juga senang lah. Haha.

Old Circle

E : Le, itu temenmu kok tua - tua semua ya. A : Iya Mak, saya jadi yang paling muda.. Haha. E : Nyambung kamu ngobrolnya? A : Disambungin Mak. Begitu respon Ibu saya ketika melihat foto di atas. Di semester kedua, tahun kedua saya belajar membaca Al Qur'an . Teman sekelas saya sedikit berubah. Nah, foto diatas adalah makan - makan penutupan libur semesteran. Biasanya diadakan cukup di kelas. Tapi karena ada seseorang kakek, eh sesebapak yang sepertinya sudah finansial freedom , kami semua diajaknya makan - makan di luar. Alhamdulillah. Saya lihat kartunya warna hitam waktu bayar - bayar dan nggak cuman satu pula. Kerjanya apa ya? Ya ngaji lah, masa kerja wkwkwkw Entah kenapa, semesta menempatkan saya di lingkaran yang kebanyakan umurnya sudah diatas rata - rata. Mulai dari lingkungan tempat tinggal, sampai tempat belajar. Seakan-akan berusaha melengkapi kehidupan saya yang fatherless biar tidak terlalu nelangsa. Belajar bagaimana caranya menghadapi kehidupan dari cerita - cerita m...

Ada Untukmu

A : Say, ikutan acara ini nyok. V : Boleh, tapi kenapa? A : Ketemu mereka... Yang dibalik senyum mereka ada cerita yang tidak diceritakan, tentang tanggung jawab, luka, dan keberanian untuk bertahan. Itu yang saya post sebagai caption di IG dan FB . Tapi beneran? Sebenernya biar ada kegiatan aja sih di hari Sabtu. Biar ada kegiatan yang bermutu. Jadi, sebelumnya nggak gitu? Ya nggak juga lah yu. Tapi kenapa ikutan? Mau ' ngaji ' diri aja bayar. Iya juga sih kenapa ya? Sebagai jama'ah Jum'at yang sering lupa ditanya materi khutbahnya apa. Ngaji dengan vibes nonton konser seperti ini menjadi sesuatu berbeda, minimal materinya diingat di kepala, masuk ke dalam jiwa. Tsah! Sepertinya telah menjadi trend di kalangan orang yang 'ngaji' beberapa tahun kebelakang, khususnya di kota besar. Ya, setiap masa ada caranya. Tiap cara ada masanya. Terus hikmahnya apa? Dah ikutan aja, kali dapat hidayah . Haha.

Paradoks

“Ini soal ambisi. Bukan. Ini soal batasan,”. Bejo , The Raid .   Needing nothing, attracts everything. Ada benarnya, semakin kita tidak membutuhkan apa - apa. Semakin apa - apa itu datang kepada kita. Dia tahu, ini waktunya Aku berikan. Hamba ini sudah lulus ujian. Itu kenapa saya jadi ingat dialog pembuka awal film diatas. Eh, apa - apanya apa? Ya bisa apa saja. Karir, jodoh, impian, harapan, kesuksesan. Tapi ya tentu saja bukan berarti menanti dalam diam. Berambisi tapi melepaskan. Mudah, bukan?

The Abudance

  V : Nanti kita sarapan disana yak ( menunjuk suatu tempat yang agak 'fancy' dan belum ada yang fail rasanya ) A : Siap. Beberapa jam kemudian. V : Eh bang, nggak jadi deh, kita harus hemat . A : Baleni omonganmu? ( Ini nggak ada di script sih ) Dan tentu saja akhirnya kami jadi sarapan kesana. Saya dengan kesadaran penuh memilih hidup yang berkelimpahan. Walaupun awalnya dipaksa keadaan. Lalu sepanjang perjalanan kami membicarakan tentang berkelimpahan aka abundance . Bahwa, Kami yang percaya bahwa semuanya memungkinkan . Kami yang tidak lagi takut kekurangan , karena memang nyatanya selalu dicukupkan . Kami yang yakin semua hal yang diharapkan akan datang sesuai kehendak Sang Pembuat Aturan .

Fatherless

      Di Amerika sana ternyata ada content creator yang fokus buat video mengenai hal - hal apa saja yang biasanya diajarkan seorang ayah ke anaknya. Penontonnya tentu saja rerata anak - anak yang tidak punya figur seorang ayah. Dalam hati, gue banget ini sih bapak, related sekali. Kemana saja selama ini? Hiks. Ah, lebay lu Ndri! Iya, biarin. Sebagai seseorang yang dilahirkan dari orang tua yang bercerai sewaktu usia dua tahunan. Lalu diasuh oleh Ibu, otomatis membuat saya tidak mempunyai sosok ayah, membuat saya tidak tahu rasanya bagaimana jika punya. Untunglah, syukur alhamdulilah Ibu. Memberikan pengetahuan sesosok ayah yang ideal lewat cerita nabi - nabi , orang - orang shaleh. Baik diceritakan langsung ataupun melalui buku. Ya walaupun tidak merasakan langsung, minimal tidak salah figur. Jadi, tulisan ini untuk anakku nanti. Maafkan kalau ayah banyak salah dan tidak begitu mengerti soal bagaimana sebaiknya membesarkanmu, tapi ketahuilah.. Ayah melakukannya dengan s...

Kekasih-Nya

  Awal mula mengenal kata ini, ketika membaca terjemahan Al Qur'an dan kitab terjemah lainnya. Terutama ketika membahas kisah Nabi - nabi di dalamnya. Agak bingung kenapa hubungan antara Nabi dan Tuhan pakai kata kekasih, seperti pasangan yang sedang jatuh cinta. Maklum pemula, bacaan masih sedikit, kosa kata belum banyak, wawasan belum luas. Tapi makin kesini, makin dewasa, makan banyak asam garam dunia, makin mengerti. Jadi paham, kenapa harus pakai kata kekasih. Karena sejatinya, hubungan Tuhan dan Hamba . Bukan karena berharap surga atau takut neraka. Tapi, karena cinta. Dan ridha .  

Artificial Intelligence

Keresahan yang ini sepertinya belum saya bahas. Padahal sudah semakin akrab berinteraksi dari hari ke hari, iya kan? ChatGPT , Microsoft Copilot , Gemini , Meta AI dan lain sebagainya. Banyak pekerjaan yang bisa digantikan olehnya. Apakah masa depan seperti film Terminator , The Matrix ? Eh kejauhan, nggak nyampe, keburu ada meteor ngehantam Bumi dan menimbulkan EMP / medan elektromagnetik energi tinggi yang mengakhiri peradaban yang serba tergantung listrik di Bumi. Sotoy lu Ndri! Nggak percaya ya sudah. Hihi. Tapi tulisan itu bukan tentang itu, tapi tentang apa bisa Artificial Intelligence menggantikan penulis? Bisa, tapi tidak ada 'rasa' khas dari tulisan penulis. Dia bisa menyalin, meniru dan membuat gaya tulisan baru. Tapi tetap 'rasa' dari emosi, resah, gelisah sebuah tulisan asli penulis tidak bisa dibuat baku. Bagaimana menurutmu?

Hidup Sebagai Raja

Pernah 'ngeh' nggak kalau hidup kita saat ini lebih enak daripada seorang Raja di masa Renaissance ? Cem mana tuh? Cek deh jumlah baju, punya sepatu, kasur yang empuk. Kemewahan bagi seorang Raja di masa itu, bisa kita nikmati saja, begitu. Terus kenapa? Bayangin aja kalau Raja - Raja di masa Renaissance itu di Edo Tensei ( buat yang nggak tahu, ini salah satu jutsu / jurus di anime Naruto yang membangkitkan orang mati ). Betapa kagetnya mereka, bayangin reaksinya melihat kehidupan kita sehari-hari yang kelihatan biasa saja. Kemudahan yang kita miliki kini, sering tidak disadari. Membuat kita, lupa sejenak untuk bersyukur betapa kehidupan kita sehari-hari yang biasa ini, adalah kemewahan bagi seorang Raja di belakang hari.

Belajar Ngaji

  Di tahun lalu, tepatnya bulan Januari saya mulai aktivitas baru setiap hari Senin dan Rabu jam sepuluh. Sesuai judul, belajar ngaji 'lagi', membaca Al Qur'an sesuai hak - hak hurufnya. Bagaimana dia dibaca sebagaimana mestinya. Serem yak? Awalnya iya, apalagi bagi seseorang yang dari kecil Iqra jilid enam saja nggak tamat - tamat. Tapi syukur alhamdulilah, kok saya enjoy ternyata. Selain memang yang dipakai metodenya beda dari Iqra, ustadz pengajarnya nggak killer - killer amat kek Guru matematika. Haha. "Kita belajar bukan cepet - cepetan tamat, tapi bagaimana kita bisa membaca firman-Nya sesuai asalnya, hak - hak hurufnya. Walau nanti ada yang kurang, tidak mengapa. Yang penting usahanya, effort-nya, berpahala'". Begitu katanya yang sering diulang-ulang di awal - awal pertemuan. Wajar sih, kan satu kelasnya maximal ada delapan sampai sepuluh orang, usia paling muda di kelas saya tujuh belas, paling tua enam puluh keatas. End of the day, di semester dua ...

Sepuluh Tahun Lalu

  Hmm, saya mau berterima kasih kepada diri saya sendiri, sepuluh tahun lalu tentang; 1. Terima kasih banyak atas keyakinanmu menentukan pilihan. 2. Terima kasih banyak atas keberanianmu mencoba banyak hal baru, mesti terkadang agak sedikit kecewa dengan hasilnya, tapi tak ada penyesalan. 3. Terima kasih banyak karena telah menjaga dirimu dengan baik, sampai akad mempertemukan belahan jiwamu. 4. Terima kasih banyak karena telah memberikan sahabat yang menerima siapa dirimu. Tidak banyak memang, tapi mereka tulus berteman denganmu. 5. Terima kasih banyak atas dimulainya kebiasaan 'uzlah'mu dari hiruk pikuk dunia di sepuluh malam terakhir Ramadhan . Terima kasih banyak ya! Terima kasih, terima kasih. Masih banyak yang belum disebutkan, tapi kirinya cukup demikian saja yang perlu diceritakan. See ya!

Melibatkan-Nya

  Berdagang , bekerja adalah sarana melatih tawakal . Menceburkan diri kepada ketidakpastian, mau tidak mau akan mencari tempat bergantung, berkeluh. Mereka yang nekat berdagang , tekun bekerja, berani merelakan tabungannya, akan ketar - ketir lalu khusyuk berdoa. Momen kelemahan, keberserahan ada di dalamnya, hal - hal diluar kendali yang membuat kita mau tidak mau melibatkan-Nya. Pernah, Ndri? Sering! Haha.

Jum'at Terakhir

Pernah liat atau dengar ceramah, nasihat, booster, mungkin lagi scroll timeline terus isi materinya itu kita banget, di momen memang kita membutuhkanya? Pernah kan ya? Saya yakin 100 persen jawabannya pernah. Karena memang sesayang itu Dia, ngasih tanda dimana - mana. Dan itu termasuk nikmat dari-Nya juga. Persis seperti isi khutbah Jum'at kemarin, tumben sekali saya tidak micro sleep terus jadi deep sleep. Bahwa kalau kita menghitung nikmat-Nya, tidak akan pernah ada hasil dari jumlah bilangannya. Kalau pun lautan menjadi tinta, dan ranting-ranting pohon di seluruh dunia ini menjadi pena. Terus kenapa title post ini Jum'at Terakhir ? Karena saya sudah lama tidak mendengar perkataan imam Jum'at yang berkata sebelum shalat dilaksanakan : Lurus dan rapatkan shaf, Jum'at ini, Jum'at terakhir kita . Semua jamaah terdiam, bahkan anak - anak kecil yang biasanya punya 'kegiatan tersendiri'. Tidak ada kegiatan di momen itu, khusyuk. Mungkin perkataan Jum'at ...

Omong Kosong

Bicara omong kosong itu murah, tapi bicara omong kosong yang kamu yakini dan perjuangkan itu tak ternilai. Bukti? Banyak, cuman saya mau kasih dua saja. Sebelumnya, bisa di zoom kalau nggak kebaca ya.. hehe.     Sesudahnya,     Sebelumnya juga,     Sesudahnya, Dah, gitu aja. Mumpung lagi kepikiran.

Jangan Sampai

Kurang apa Ibrahim alaihissalam .. Dalam mencari-Nya? Di tengah penyembahan berhala yang dia sendiri diciptakan tak dapat menciptakan. Kurang apa Ibrahim alaihissalam.. Memohon ampunan untuk Azar , 'bapak'nya yang bersebrangan keyakinan? Kurang apa Ibrahim alaihissalam.. Menanti, bersama Ibunda Sarah puluhan tahun menanti keturunan? Kurang apa Ibrahim alaihissalam.. Ketika sudah lahir Ismail alaihissalam dari Ibunda Hajar , justru diperintahkan ditinggalkan di Padang Tandus tempat bermulanya air Zamzam ? Kurang apa Ibrahim alaihissalam.. Ketika usia remaja, melalui mimpi yang benar. Ismail alaihissalam diperintahkan harus dikurbankan? Tidak, tidak ada kekurangan. Beliaulah kekasih-Nya.. Suri tauladan bagi kita umat sesudahnya, yang kita ketahui kisahnya lewat firman-Nya.. Jadi, jangan sampai ada di fase kehidupan kita, berburuk sangka kepada-Nya. Foto, Mina & Tempat Penyembelihan Ismail alaihissalam, Mei 2016.

Terima Kasih

Hamba tahu, Tuan.. Dihadapan-Mu tidak ada kemustahilan .. Hamba juga sangat mengerti, tapi tetap saja iri.. Karena kekasih Tuan sudah meninggalkan perkataan abadi .. Iri tidak diperbolehkan kecuali terhadap dua orang.   Hamba juga tahu diri, seberapa kapasitas yang hamba miliki.. Betapa banyaknya kesalahan - kesalahan, yang hamba ketahui dan tidak disadari.. Jadi, Tuan.. Terima kasih.

Itikaf

  Entah sudah berapa kali saya menulis tema ini, tapi akan saya coba ulangi lagi. Barangkali bisa memberikan sedikit arti. Saya mengenal kata ini dari tahun dua ribu tiga belas. Kisah Nabi menghabiskan sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan berdiam diri di Masjid di tahun itu sukses membuat saya tidak mudik ke kampung halaman di hari - hari menjelang lebaran , dari tahun itu, tahun berikutnya dan tentu saja tahun ini. Kenapa? Pertama, tentu saja ingin mengikuti tuntunan Sang Junjungan . Yang pastinya tidak sempurna. Kedua, waktunya jiwa pulang, mencoba mendekat, berusaha dekat dengan Sang Pemilik Jiwa . Ketiga, cara pandang melihat dunia saya telah sangat berubah dengan mengasingkan diri dari hiruk-pikuk banyaknya aktivitas menjelang lebaran . Bisa kasih contohnya? Wah banyak sekali listnya. Enaknya sih sambil ngobrol menikmati senja. Lah. Yang sederhana, tidak ribet beli baju lebaran , keperluan lebaran dan lain sebagainya. Karena memang sudah disiapkan sebelumnya. Haha. Saya...