Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Self Talk

Slow Travel

Bukan, ini bukan saya buka tour travel bernama Slow Travel . Tapi tentang bagaimana sebagian besar pihak telah kehilangan kenikmatan proses perjalanan ke tempat tujuan.  Kesusu, serba buru - buru, dan itu bukan saya apalagi kita, semoga. Tapi kalau ada yang mau ngide kolaborasi bikin travel perjalanan tanpa harus banget mikirin foto estetik, buat video cinematic. Just enjoy the moment, gas lah! Haha. Pernah suatu waktu kami, saya dan istri mencoba mengikuti jadwal perjalanan kolega ketika berlibur ke Jogja .  Dalam satu hari, ada sekitar enam sampai delapan tempat 'hits' yang harus dikunjungi untuk diabadikan menjadi sebuah konten algoritma . Indah hasilnya, tapi kami seperti kehilangan sesuatu. Iya, kenikmatan menikmati perjalanan yang lambat.  Sepertinya kalau nanti ada kesempatan liburan bersama, saya dan kolega harus berpisah dan bertemu di titik tertentu saja. Slow travel, menikmati apa yang ada di kiri dan kanan. Abadikan momen di memori internal. Dah gitu aja. 😶

Melekat

Ada salah satu kesamaan antara saya dengan istri yang sepertinya perlu disyukuri dan maknai lebih dalam. Kami berdua tidak suka ada benda yang melekat dengan tubuh, terutama perhiasan . Istri tidak suka pakai, cincin, gelang, kalung apalagi jam tangan . Pun saya, boro - boro pakai cincin atau gelang misalnya. Pakai jam tangan saja kalau kepengen saja. Ah, elu nggak beliin kali Ndri! Eh, jangan salah. Waktu mengajak menikah saya tanyakan mau mahar perhiasan apa. Beneran apa saja, karena memang rezekinya ketika mau menikah sangat berlimpah. Sekarang juga sih, nggak kurang - kurang nikmat-Nya. Hehe. Istri malah memilih logam mulia saja. Ya sudah, saya terima dan tambahkan uang tunai beberapa. Pernah saya juga belikan jam tangan, ya, sesekali dipakai setelahnya entah pergi kemana-mana itu jam. Haiya! Benang merah yang bisa saya petik, kami berdua memang tidak suka ada yang melekat, terutama soal perhiasan, soal dunia. Belajar bahwa sebenarnya kami tidak memiliki apa - apa tanpa menafikan...

Sirr - Jahr

Kenapa waktu sholat ketika matahari ada, bacaannya Sirr ? Karena dunia terlalu berisik, Tuhan sedang memberi jeda yang tenang. Dan kenapa waktu sholat ketika matahari tenggelam, bacaannya Jahr ? Ketika dunia telah diam, Tuhan memberi kesempatan bercengkrama dengan firman-Nya yang seharusnya dengan sangat kita perhatikan. Keterangan : Jahr (jahar) adalah mengeraskan suara saat membaca bacaan shalat (terdengar), sedangkan sirr (sirri) adalah melirihkan atau merendahkan suara (tidak terdengar orang lain). Jahr dilakukan pada shalat Maghrib , Isya , dan Subuh , sementara sirr dilakukan pada shalat Zhuhur dan Ashar .

Panoramic

Anonim 1 : Kereta apa ini? Kereta horang kaya pasti. Anonim 2 : Ini berapa tiketnya? Mirip sama Whoosh. Anonim 3 : Keren bet keretanya. Setidaknya itu komentar beberapa teman ketika saya update stories naik kereta wisata Panoramic . Mereka nggak tahu aja kalau beli tiketnya pakai kasbon bulan April. Wkwkwk Tapi tak mengapa lah, demi pengalaman, demi menyenangkan istri, demi kejutan di hari Anniversary . Nggak seratus persen kejutan sih, karena awalnya memang saya beli tiket biasa buat pulang Bandung - Bekasi . Lalu upgrade diam - diam tanpa sepengetahuan istri. Rencananya tidak mau saya beritahu sampai waktunya pulang hari Senin. Tapi ya, karena sudah tahu punya istri agak laen, antimainstream. Ya sudah, di kereta perjalanan berangkat saya beritahu saja. Karena saya sudah tahu ekspresinya nanti. Hiks. Q : Eh Ndri, bukannya lu nikah bulan Juli ya? A : Iya, betul. Q : Terus kenapa Anniversary-nya April? A : Eh, mohon maap kita nikah di Bulan Syawal . Pake kalender Hijriyah bo...

Tunggu Aku Sukses Nanti

Mata saya berkaca - kaca saat adegan bapaknya Arga menyatakan bangga dan meminta maaf, soal keadaan keluarga yang membuatnya memikul beban yang tidak seharusnya dia pikul sendirian. Sebagai fatherless person, saya menduga mungkin begitulah ternyata rasanya punya sesosok "Ayah Sungguhan" di keluarga. Iya, adegan itu mengandung bawang. *Hiks Film ini mengajarkan soal apa itu validasi, angka cukup dan artinya manjadi dewasa itu sendiri. Juga ini, jangan berburuk sangka. Sebuah pesan plot twist. Itu kenapa saya nonton dua kali, pertama dengan istri, kedua dengan mertuanya istri. Jadi, rekomendasi? Wajib! Wahai kawanku yang ingin merasa dicintai agar tidak kehilangan diri. Hihi.

Amal Andalan

  Sembunyikan amalanmu sebagaimana Dia menyembunyikan aib-aibmu. Di tengah keramaian ibadah yang bisa divalidasi menjadi citra diri, sepertinya kuwot yang saya tulis di dua ribu sembilan belas diatas masih relevan, in this economy. Tentunya setiap kita, bukan, tapi saya. Tidak akan mungkin mencontoh amalan Nabi seratus persen, jangankan seratus, lima sampai sepuluh persen saja rasanya sudah, wah sekali. Maafkan kami ya Nabi. Kiranya Engkau sudi kami akui sebagai satu-satunya pemberi syafaat di Hari Akhir nanti. Ijinkan kami. Karenanya, setiap kita, eh saya maksudnya. *Iya maap, ngapain ngajak-ngajak yak Harus punya amalan andalan yang konsisten, yang mungkin tidak populer, tapi bisa kita banggakan, setidaknya. Bukan di dunia ini, murah sekali. Tapi nun jauh disana nanti. Di hadapan Pemilik Awal dan Akhir hari, dan tentunya Engkau juga wahai Nabi. Terus amalanmu apa Ndri? *Halah di awal kan udah ditulis sih, malu sama aib   Ok, biar ada gambaran. Asisten saya a.k.a Kecerdasan...

Month of the Soul

Ramadhan adalah bulan untuk ruh atau jiwa mendapatkan haknya. Sebentar, jiwa dan ruh itu entitas yang berbeda. Begitu juga dengan sukma. Ruh adalah... *Bukan itu fokus tulisan ini Ndrie. Iya yak. Lain kali bahasnya bisa kale? Coba komentar di bawah. Eh. Berhenti sejenak, memberi kesempatan jiwa untuk disapa, ditanya, bagaimana kabarnya? Ramadhan memberikan kesempatan itu semua, lewat berpuasa , shalat malam,  membaca firman-Nya , bersedekah , berzakat sampai beri'tikaf . Adakah dia baik-baik saja? Atau mendapatkan duka di sebelas bulan sebelumnya? Lelah yang bertambah - tambah, tanggung jawab yang seolah-olah tidak ada jedanya sebentar saja. Ramadhan memberikan jawaban, bukan sebentar, sejenak, tapi satu bulan penuh kesempatan. Sayang kalau disia-siakan bukan? Dan, apakah di penghujungnya, kita benar-benar sudah mendapatkan ketenangan, kemenangan? Untuk jiwa, Ied Mubarak !

Buka Pake Permen

Rencana ke Tuas, Takdir ke Woodlands Bermula dari pembelian tiket pesawat yang random tanggalnya, pokoknya harga promo mentok antara berangkat dan pulang. Budget nggak boleh lebih dari tiga jutaan buat berdua, pilih tanggal dan ternyata menjelang keberangkatan baru tahu tepat pas awal Ramadhan . Akhirnya tanpa sengaja kami merasakan vibes berpuasa awal di negeri orang, Minggu keempat di bulan Maret–April 2023 tanpa persiapan. Sudah menjadi ritual, kalau ke Singapura bisa dipastikan kami juga ke Malaysia , seperti turis kebanyakan. *Aseeeek Lebih tepatnya karena nggak perlu ada budget buat penginapan. Durasi kami berkunjung paling lama setengah bulan, paling sedikit semingguan tambah satu-dua harian. Jadi, tahulah. Tidak ada itinerary, mengalir saja. Dibagi dua untuk jatah hari-harinya. Seminggu di sini dan seminggu di sana. Dan begitulah awalnya. *Buset panjang bener opening-nyah yak wkwkwk Jatah kami ke Malaysia, Pak Lek yang di sana sengaja mau menjemput.  Biasanya kami dari kel...

Perkongkowan Sabtu Minggu

Saya cukup lama follow akun @bapakID , lupa kapan tepatnya. Maklum ya pak. Post paling saya suka seputar tips dan rekomendasi, bahkan adalah saya beli sesuatu karenanya. Eh, ujuk - ujuk Istri nyeletuk, "Bang ikutan ini dah, biar kamu ada pergaulan". Lah, bukannya selama ini kita saling menggauli yak? Ya, akhirnya biar cepat dan doi senang, saya iyain aja lah.  Oh ya, background saya kerja di rumah sejak Lazada , Gojek dkk baru mulai dikenal. Udah gitu, tinggal di komplek pensiunan. Kebayang kan pak? Jadi sebenarnya nggak perlu surat ijin, auto approved lah buat ikutan. Batch Dua Eh kepilih, Persami batch Satu. Tapi karena tanggal bentrok ada acara keluar kota di tanggal yang sama. Saya minta kalau diperkenankan ikutan batch Dua. Dan terjadilah. Ternyata... Di Perkongkowan Sabtu Minggu ini saya banyak belajar, kenalan dan tentunya senang - senang. Acaranya banyak becanda khas bapak - bapak pada umumnya, tapi soal kepengurusan nggak ada obat. Apalagi hadiahnya! Ya walaupun n...

Warna

  Diwarnai dan mewarnai. Itu kesimpulan kami, saya dan istri. Ketika selesai melihat beberapa vlogger diaspora Indonesia di luar negeri. Terutama yang sudah menikah, terlihat jelas sekali dengan melihat keadaan anak - anaknya. Eh, Ndri.. wait. Ini bahas apaan sih? Ini bahas lukisan kan? Pelukis kan? Bukan, ini lebih dalam dari itu semua. *Aseeeek “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah ; kedua orang tuanyalah yang menjadikannya penganut agama Yahudi , atau Nasrani, atau Majusi .'' Hadits Riwayat Abu Hurairah , Shahih Muslim . Kan, kata gue juga apa, rada berat kan? Namanya juga kedalaman. Haha. Jadi, tahu soal diri sendiri sebelum mewarnai atau diwarnai jelas perkara yang wajib dilakukan bukan? Dan bisa dilakukan, jika.. Hening, tenang dan tentu saja itu ada dalam kesendirian. Dalam jeda diantara banyaknya distraksi dan riuhnya dunia. Baik dari yang nyata apalagi yang maya. Hei! Selamat datang!

Garwa

Di ujung senja merah dan disamping jiwa yang sedang menghadap-Nya. Aku ingin mengabadikan peristiwa dari aliran waktu yang ingin terus aku habiskan bersamanya. Lewat kata yang coba kurangkai seindah mungkin untuk bisa dibaca. Bahwa.. Aku ingin berterimakasih sebanyak mungkin kepada Ibu yang telah melahirkannya. Kepada Dia yang telah menulis lewat pena takdir bahwa harus bersamanya dalam menghadapi dunia dan segala isinya. Lebih dan kurang, tidak ada yang sempurna. Kurang dan lebih aku pun demikian. Tapi bukankah memang yang berlawanan seringkali merupakan pasangan yang ditakdirkan?  

Henti

  F : Lho mas, si Farhan mobil remote control-nya ada tiga. A : Tapi ya nggak dirumat ya, karena nggak ada saingan. Nggak ada yang ngajak baku hantam buat rebutan itu mainan. Haha. Kata René Girard , dosa terbesar manusia adalah keinginan meniru, manusia tidak punya keinginan asli. Semua keinginan kita dipinjam dari orang lain. Kita menginginkan sesuatu karena orang lain ingin. Make sense nggak? Apalagi dengan adanya social media, yang dengan mudahnya membuat kita, saya terpengaruh dengan keinginan algoritma . Oleh artificial intelligence yang seakan-akan mengerti sekali soal keinginan kita. Jadi, berhenti sejenak. Bicara dengan diri sendiri tentang keinginan-keinginan, adalah tirakat yang perlu dilakukan. Perlu diusahakan. Iya kan?

Mazhab Jalan Panjang

Q = Kerja dimana Mas? A = Di rumah :D *Nyengir Q = Haha... :D 1 Desember 2012. Kalau dialog diatas diulang di tahun sekarang, mungkin sudah biasa saja. Tidak terlalu aneh, sudah lumrah, sudah banyak yang demikian. Terus kenapa? Hmm, mau cerita aja. Kemarin ketemu temen lama, harapannya ada kolaborasi antara aku dan dirinya dengan peluang apa saja dari yang sudah dibicarakan. *Eeaaaa Terus apa hubungannya? Ya, dihubungkan. Tentang pilihan, bahwa saya lebih suka memilih jenis bisnis yang urusannya panjang. Meski saya kerjakan dari rumah, sebisa mungkin dampaknya bisa kebanyak orang. Seperti petuah dari Guru kita semua, Anda tahu siapa. Tidak selalu tentang uang, tapi tentang kebermanfaatan dari keberadaan. Ya, kalau uangnya banyak saya juga senang lah. Haha.

Old Circle

E : Le, itu temenmu kok tua - tua semua ya. A : Iya Mak, saya jadi yang paling muda.. Haha. E : Nyambung kamu ngobrolnya? A : Disambungin Mak. Begitu respon Ibu saya ketika melihat foto di atas. Di semester kedua, tahun kedua saya belajar membaca Al Qur'an . Teman sekelas saya sedikit berubah. Nah, foto diatas adalah makan - makan penutupan libur semesteran. Biasanya diadakan cukup di kelas. Tapi karena ada seseorang kakek, eh sesebapak yang sepertinya sudah finansial freedom , kami semua diajaknya makan - makan di luar. Alhamdulillah. Saya lihat kartunya warna hitam waktu bayar - bayar dan nggak cuman satu pula. Kerjanya apa ya? Ya ngaji lah, masa kerja wkwkwkw Entah kenapa, semesta menempatkan saya di lingkaran yang kebanyakan umurnya sudah diatas rata - rata. Mulai dari lingkungan tempat tinggal, sampai tempat belajar. Seakan-akan berusaha melengkapi kehidupan saya yang fatherless biar tidak terlalu nelangsa. Belajar bagaimana caranya menghadapi kehidupan dari cerita - cerita m...

Ada Untukmu

A : Say, ikutan acara ini nyok. V : Boleh, tapi kenapa? A : Ketemu mereka... Yang dibalik senyum mereka ada cerita yang tidak diceritakan, tentang tanggung jawab, luka, dan keberanian untuk bertahan. Itu yang saya post sebagai caption di IG dan FB . Tapi beneran? Sebenernya biar ada kegiatan aja sih di hari Sabtu. Biar ada kegiatan yang bermutu. Jadi, sebelumnya nggak gitu? Ya nggak juga lah yu. Tapi kenapa ikutan? Mau ' ngaji ' diri aja bayar. Iya juga sih kenapa ya? Sebagai jama'ah Jum'at yang sering lupa ditanya materi khutbahnya apa. Ngaji dengan vibes nonton konser seperti ini menjadi sesuatu berbeda, minimal materinya diingat di kepala, masuk ke dalam jiwa. Tsah! Sepertinya telah menjadi trend di kalangan orang yang 'ngaji' beberapa tahun kebelakang, khususnya di kota besar. Ya, setiap masa ada caranya. Tiap cara ada masanya. Terus hikmahnya apa? Dah ikutan aja, kali dapat hidayah . Haha.

Paradoks

“Ini soal ambisi. Bukan. Ini soal batasan,”. Bejo , The Raid .   Needing nothing, attracts everything. Ada benarnya, semakin kita tidak membutuhkan apa - apa. Semakin apa - apa itu datang kepada kita. Dia tahu, ini waktunya Aku berikan. Hamba ini sudah lulus ujian. Itu kenapa saya jadi ingat dialog pembuka awal film diatas. Eh, apa - apanya apa? Ya bisa apa saja. Karir, jodoh, impian, harapan, kesuksesan. Tapi ya tentu saja bukan berarti menanti dalam diam. Berambisi tapi melepaskan. Mudah, bukan?

The Abudance

  V : Nanti kita sarapan disana yak ( menunjuk suatu tempat yang agak 'fancy' dan belum ada yang fail rasanya ) A : Siap. Beberapa jam kemudian. V : Eh bang, nggak jadi deh, kita harus hemat . A : Baleni omonganmu? ( Ini nggak ada di script sih ) Dan tentu saja akhirnya kami jadi sarapan kesana. Saya dengan kesadaran penuh memilih hidup yang berkelimpahan. Walaupun awalnya dipaksa keadaan. Lalu sepanjang perjalanan kami membicarakan tentang berkelimpahan aka abundance . Bahwa, Kami yang percaya bahwa semuanya memungkinkan . Kami yang tidak lagi takut kekurangan , karena memang nyatanya selalu dicukupkan . Kami yang yakin semua hal yang diharapkan akan datang sesuai kehendak Sang Pembuat Aturan .

Fatherless

      Di Amerika sana ternyata ada content creator yang fokus buat video mengenai hal - hal apa saja yang biasanya diajarkan seorang ayah ke anaknya. Penontonnya tentu saja rerata anak - anak yang tidak punya figur seorang ayah. Dalam hati, gue banget ini sih bapak, related sekali. Kemana saja selama ini? Hiks. Ah, lebay lu Ndri! Iya, biarin. Sebagai seseorang yang dilahirkan dari orang tua yang bercerai sewaktu usia dua tahunan. Lalu diasuh oleh Ibu, otomatis membuat saya tidak mempunyai sosok ayah, membuat saya tidak tahu rasanya bagaimana jika punya. Untunglah, syukur alhamdulilah Ibu. Memberikan pengetahuan sesosok ayah yang ideal lewat cerita nabi - nabi , orang - orang shaleh. Baik diceritakan langsung ataupun melalui buku. Ya walaupun tidak merasakan langsung, minimal tidak salah figur. Jadi, tulisan ini untuk anakku nanti. Maafkan kalau ayah banyak salah dan tidak begitu mengerti soal bagaimana sebaiknya membesarkanmu, tapi ketahuilah.. Ayah melakukannya dengan s...

Kekasih-Nya

  Awal mula mengenal kata ini, ketika membaca terjemahan Al Qur'an dan kitab terjemah lainnya. Terutama ketika membahas kisah Nabi - nabi di dalamnya. Agak bingung kenapa hubungan antara Nabi dan Tuhan pakai kata kekasih, seperti pasangan yang sedang jatuh cinta. Maklum pemula, bacaan masih sedikit, kosa kata belum banyak, wawasan belum luas. Tapi makin kesini, makin dewasa, makan banyak asam garam dunia, makin mengerti. Jadi paham, kenapa harus pakai kata kekasih. Karena sejatinya, hubungan Tuhan dan Hamba . Bukan karena berharap surga atau takut neraka. Tapi, karena cinta. Dan ridha .  

Artificial Intelligence

Keresahan yang ini sepertinya belum saya bahas. Padahal sudah semakin akrab berinteraksi dari hari ke hari, iya kan? ChatGPT , Microsoft Copilot , Gemini , Meta AI dan lain sebagainya. Banyak pekerjaan yang bisa digantikan olehnya. Apakah masa depan seperti film Terminator , The Matrix ? Eh kejauhan, nggak nyampe, keburu ada meteor ngehantam Bumi dan menimbulkan EMP / medan elektromagnetik energi tinggi yang mengakhiri peradaban yang serba tergantung listrik di Bumi. Sotoy lu Ndri! Nggak percaya ya sudah. Hihi. Tapi tulisan itu bukan tentang itu, tapi tentang apa bisa Artificial Intelligence menggantikan penulis? Bisa, tapi tidak ada 'rasa' khas dari tulisan penulis. Dia bisa menyalin, meniru dan membuat gaya tulisan baru. Tapi tetap 'rasa' dari emosi, resah, gelisah sebuah tulisan asli penulis tidak bisa dibuat baku. Bagaimana menurutmu?