Langsung ke konten utama

Buka Pake Permen




Rencana ke Tuas, Takdir ke Woodlands

Bermula dari pembelian tiket pesawat yang random tanggalnya, pokoknya harga promo mentok antara berangkat dan pulang.

Budget nggak boleh lebih dari tiga jutaan buat berdua, pilih tanggal dan ternyata menjelang keberangkatan baru tahu tepat pas awal Ramadhan.

Akhirnya tanpa sengaja kami merasakan vibes berpuasa awal di negeri orang, Minggu keempat di bulan Maret–April 2023 tanpa persiapan.


Sudah menjadi ritual, kalau ke Singapura bisa dipastikan kami juga ke Malaysia, seperti turis kebanyakan. *Aseeeek
Lebih tepatnya karena nggak perlu ada budget buat penginapan.

Durasi kami berkunjung paling lama setengah bulan, paling sedikit semingguan tambah satu-dua harian.

Jadi, tahulah. Tidak ada itinerary, mengalir saja. Dibagi dua untuk jatah hari-harinya. Seminggu di sini dan seminggu di sana.

Dan begitulah awalnya. *Buset panjang bener opening-nyah yak wkwkwk

Jatah kami ke Malaysia, Pak Lek yang di sana sengaja mau menjemput. 
Biasanya kami dari keluarga di Singapura langsung ke sana. Mungkin kangen pengen nyetir jemput anak cucu. 
Maklum, aturan bisa lepas masker dan masuk Singapura setelah plandemic Covid baru berlaku.


Singkat cerita, saya dan istri, sepupu dan ketiga bocilnya sudah di mobil Pak Lek waktu Ashar.
Estimasi kita bisa sampai dan berbuka puasa di Johor pas Maghrib tiba.

Tapi ya, namanya rencana.


Pak Lek ini tipe orang yang kalau nyetir nggak pakai GPS. Mungkin karena memang sudah hafal jalan. Diawali dengan nyasar — nyasar pastinya kan?

Tapi nyasarnya ini ternyata… diulang.

Imigrasi Singapura–Malaysia ada dua, Woodlands Checkpoint (Utara) dan Tuas Second Link (Barat).

Rencananya kita ke Tuas, ndilalah muter-muter dan untungnya istri yang nyadar kok nggak sampai-sampai ke tujuan. Harusnya lebih cepat, kok jadi lambat.

Akhirnya diputuskan ke Woodlands yang lebih dekat dengan lokasi nyasar. Dan… traffic jam!

Untuk yang biasa nyebrang mungkin sudah persiapan. Tapi karena rencananya berbuka di negeri sebelah, kita tidak bawa makanan. Minuman pun tidak.

Sampai waktu berbuka tiba, kita baru keluar Imigrasi Malaysia.

Syukurlah, si sulung dari bocil bertiga bawa permen sisa dari sekolahnya.
Iya, kita semua berbuka dengan permen yang ada.
Sesuai dengan judulnya.

Permen adalah anugerah.

Berbuka dengan permen, ditemani cerita Bu Lek yang telepon harap-harap cemas menyiapkan bukaan yang, wah.





Tambahan dari AI yang nyamar jadi saya : 

Kadang kita terlalu sibuk memastikan rute tercepat, sampai lupa bahwa yang membuat perjalanan berkesan justru momen tak terduga di tengahnya.

Hari itu kami belajar, berbuka tidak selalu tentang meja penuh hidangan.

Kadang cukup sebutir permen… yang membuat kami sadar, manis itu bukan soal rasa tapi soal syukur yang tiba tepat pada waktunya.

Komentar

7 Hari Dilihat

Apa Yang Dicari Dalam Hidup Ini?

Tiba-tiba pertanyaan itu melintas di benak saya, dan akhirnya daripada menyimpannya sendirian saya forward pertanyaan ke teman-teman via sms sore itu. Iseng-iseng berhadiah, hikmah :D Yah, agak lama memang menunggu jawaban daripada pertanyaan semacam itu, setidaknya  mungkin teman-teman saya mulai berpikir apa yang paling dia cari, apa yang paling penting dalam hidupnya kini. Finally, akhirnya beberapa dari mereka membalasnya pertanyaaan itu. Berikut saya kutip selengkapnya, tapi tetap Anonymous yaa :v Anonymous I : Kebahagiaan Anonymous II : Dimana aku bisa menemukan cinta sejati dari wanita yang sholeha yang bisa selalu mengingatkan kalo aku salah/khilaf. Yang bisa membimbing aku menjadi suami yang sholeh untuk keluargaku. Anonymous III : Ketenangan hati Anonymous IV : Rizki dari Yang Maha Kuasa Jawaban yang beragam bukan? Jawaban-jawaban itu menurut analisis saya sebagai pakar bla-bla-bla :D . Datang dari latar belakang, situasi dan kondisi teman-tema...

Ketika Cinta

Ketika ditanya cinta.. Ah, aku tidak sempurna mengenalnya.. Ketika ditanya cinta.. Ah, mungkin aku sudah mati rasa dalam cinta.. Ini bukan sajak cinta.. Untuk menjerat pencari cinta.. Ini bukan sajak cinta.. Untuk menculik hati yang haus cinta.. Bagaimana aku mau mencinta.. Kalau cahaya cinta pada-Nya belum paripurna.. Bagaimana aku mau mencinta.. Ah, kuserahkan cinta kepada Maha Cinta.. Ah, biar cinta yang datang adalah cinta karena-Nya.. ______________________

Di Balik Konspirasi

Memohon perlindungan dari fitnah darinya.. Di setiap akhir sujud sembah.. Tapi bagaimana? Paranoid, asing, aneh, kuno bla bla bla.. Alergi, phobia bla bla bla.. Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah s.a.w bersabda:  “Sudahkah aku ceritakan kepadamu tentang Dajjal, yang belum diberitakan oleh Nabi kepada kaumnya. Sungguh Dajjal itu buta mata sebelahnya dan ia akan datang membawa sesuatu yang menyerupai syurga dan neraka, adapun yang dikatakan syurga, maka itu adalah neraka. Dan aku memperingatkan kalian sebagaimana Nabi Nuh a.s memperingatkan kepada kaumnya.”

Sia

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Dar der dor banget memang ngeliat kelakuan petugas rakyat Indonesia menjalankan tugasnya. Kok bisa, masih manusia kan ya? Belum selesai urusan A bisa langsung lompat ke urusan T bahkan salto ke Z, tapi ya begitulah. Kita semua sudah tahu kenapa. Ada yang meraba kita memang sudah fase keempat di fase - fase zaman yang disebutkan dalam sabda Nabi. Jadi ya sebisa mungkin dinikmati, tetap waras dan jaga api. Waras, sehingga bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Jaga api semangat untuk memegang kebenaran meski bisa terbakar dan mati. Terus apa hubungannya tulisan di paragraf pertama Ndri? Oh, itu tentang obrolan saya di suatu siang dengan teman ngaji, kok bisa ya kelakuan manusia bisa sebegitu jahatnya? Padahal hidup berdampingan kan bisa? Gimana mereka - Anda Tahu Siapa - kok bisa ngelakuin genosida, memakan riba, merusak bumi dan segal...

Egois

"Semua orang egois!,". Temanku "Kalau nggak egois nggak hidup,". Jawabku sekenanya.

Bloofers & Another Stories

Suasana itu masih terasa.. Selamanya akan tinggal.. Dalam ingatan.. Dalam hangatnya pelukan jiwa.. Akrab, tanpa jarak.. Begitu saja.. Mengerti, tanpa meminta.. Begitu saja.. Lebih dari sekedar persahabatan.. Lebih, lebih seperti keluarga...    

Pengkhianat

Aku tidak mau menjadi pengkhianat.. Maka sebisa mungkin aku menerapkan aturan-aturan Sang Utusan.. Aku tidak mau menjadi pengkhianat.. Maka sebisa mungkin aku menjaga diri agar tetap terjaga.. Aku tidak mau menjadi pengkhianat.. Maka sebisa mungkin aku tidak gelap mata, kalap terhadap harta .. Aku tidak mau menjadi pengkhianat.. Maka sebisa mungkin aku menjalankan tugas sebaik-baiknya, dimana aku menjadi pemimpin di dalamnya.. Aku tidak mau menjadi pengkhianat.. Maka sebisa mungkin aku menjaga pergaulanku dengan wanita, membuat sekat-sekat yang semestinya ada..