Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2010

Surat Untuk Ibu

Pernahkah kau mau mengerti, Ikhlas yang kau lukai..
tentang Allah dan KebenaranNya sentuhi ruang..
Kutak pernah bermaksud menyakitimu..
Tapi ini lah jalan hidupku yang kupilih tanpa paksaan..
Nurani yang memanggil jiwaku…

Dimana aku bersandung tentang dukamu..
Inilah laguku untukmu ibu..
Sekedar pengharapanku agar kau tahu..
Setulus kewajibanku sebagai seorang anak..
Membingkai kenangan kita..
Butiran-butiran kenangan perjalanan waktu..
Waktu yang selalu kuingat dalam sentuhan wejanganmu..
Diujung pintu rumah ku berlalu..
Menahan pilu tentang kehilangan dirimu..
Tapi jalan hidup adalah nuansa..
Nuansa yang ingin kujawab dengan kebenaran yang sempurna..
Berantah logika yang harus kuterima..
Logika dari fakta konsekuensi ujung hati yang ingin bicara, tentang fakta, tentang realita yang kutemukan bersama cinta empunya surga..
Bahasa kasih sayang dari keharuman Madinah..
Disetiap pertarungan sisi hati yang ingin menyapa hidayah..
Hidayah dari sebuah permata..
Yang membakar batas peradaban dunia..


Salahkah aku …

Suatu saat..

Kemarin bersama..
Melewati canda tawa, air mata..
Lusa sendiri..
Menantikan lagi..
Kebersamaan kita..
Apa yang terjadi, kini, lusa, kemarin?
Denganmu, denganku?
Terlupa dalam tanya..
Tanya kapan waktu tak bisa menghentikan kita..
Tanya kapan tempat bagai surga yang tak berbatas..
Masih menunggu..
Suatu saat..

Hanya soal waktu...

Hancur lebur
Atau berdiri kokoh seperti gunung
Semua akan biasa saja
Kebiasaan menjadi saja
Dunia akan terus tertawa
Tak peduli nelangsa menimpa
Tak peduli bahagia meraja
Begitulah sifatnya
Membentuk tanah liat menjadi sebuah maha karya itulah tujuannya
Mengukir ukiran nan indah adalah efek sampingnya
Terlalu larut dalam kesedihan sebenarnya adalah hal yang tak perlu
Semua hanya soal waktu
Semua hanya tentang kapan euforia bahagia muncul
Dan menenggelamkanmu, menenggelamkanku..

Dreamland

Kelumpuhan yang berbahaya..
Yaitu kita dilumpuhkan oleh rasa takut dan ragu.. Kenapa?
Ketika rasa takut dan ragu menerpa, kita telah kehilangan kepercayaan..
Kepercayaan bahwa kita dapat melakukan kebaikan, kebaikan bagi semua..
Kita berhenti berharap, bersikap sinis saat ragu dan takut melanda..
Bahaya itu disebarkan oleh mereka yang kehilangan kepercayaan dan sinis akan harapan..
Jangan sampai.. Jangan!
Kita dibutakan akan harapan, kepercayaan..
Bahwa kita dapat melakukan kebaikan bagi semua..
Bahwa kita mempunyai pengharapan, tidak ragu, sinis..
Akan halnya kering kemarau berharap hujan..
Akan halnya berlayar di laut yang tak tenang, setelahnya di ujung perjalanan terdapat pulau..
Pulau impian!

Percakapan Tertulis

"Syukurilah kegoblokanmu...". sms yang kukirimkan kepada beberapa teman, dan itu adalah isi update status 'Guru'ku.

Dan ada seseorang teman itu membalas, "Untuk apa,".
"Menurut anda?,". balasku untuk memancingnya.
"Untuk menjadi lebih baik?,". balasnya setengah tidak yakin nampaknya.
"Anda benar!,". gayaku meyakinkannya.
"Bagaimana caranya untuk mensyukuri sesuatu yang nggak kita inginkan?,".
"Dengan merelakan dan mensyukurinya, nggak setiap yang kita anggap nggak baik itu nggak baik.. contoh, aku bersyukur lahir di keluarga broken home,". aku mencoba memberi pengertian, semampuku tentu.
"Ya memang, terus apa yang kamu syukuri dari semua yang terjadi di hidup kamu?,". dia kembali bertanya.
"Banyak sekaliii... salah satunya, aku bahagia bisa menjadi aku yang sekarang sekarang ini,". jawabku sekenanya. "Apa yang kamu bahagiakan dari hidupmu yang sekarang ini,". rupanya dia belum …

Doakan

Lama tak menyapaku..
Hati ini dingin, beku..
Apa aku tak normal, atau diatas normal?
Apa jangan-jangan abnormal?
Dan gila?

Adakah sang pembawa api, yang mencairkannya perlahan?
Yang menghangatkan..
Yang meneduhkan tanpa membuatnya kedinginan..
Pasti, sangat yakin!
Siapa?
Apakah benar dia?
Atau dia yang lainnya?
Aku takut sesat menafsirkan, mendefinisikannya..
Semoga saja dia, doa berharap..

Rasa yang tinggi, tanpa tercampuri..
Tanpa doktrin-doktrin atau cerita murahan tentangnya yang tertelan mentah-mentah..
Ingin aku lesatkan!
Ingin aku luapkan semampunya..
Kepadanya..
Dan tentu saja, dalam ikatan yang jelas..
Doakan saja..
Segera..
Teman..

Menunggu Ia Sadar

Masih belum juga..
Terdampar di pulau kebingungan..
Telah lama terkapar menyelami pertanyaan..
Untuk apa, siapa?
Hati ini tertawan..
Lelah ini terbayar..
Masih belum juga?!
Mau sampai kapan?

Dia

Hati satu: tak ada yang bilang itu mudah, tapi seharusnya mudah, inilah proses, kau harus mengalahkan dirimu..
Hati dua: baiklah, teman..tolong tampar aku! tikam jiwaku dengan nasehatmu, bangkitkan aku..
Hati satu: tenang, teman..aku akan selalu didekatmu..
Hati dua: kenapa aku harus mementingkan mereka dulu?
Hati satu: karena dengan begitu kau akan berarti, kalau pun sebentar lagi kau mati.. bukankah kau ingin jika mereka mengenangmu, mereka berkata " hidupku menjadi lebih baik karena dia"?
Hati dua: memang begitu, tapi aku pun butuh tempat mengadu?
Hati satu: bukankah ada Dia?
Hati dua:...

let's change and be happiness our self.. n_n

Kadang kita merasa jenuh, bosan..
Keadaan sepertinya tak berubah, itu-itu saja.. 
Pagi begitu, siang, sore, malam juga begitu.. 
Tak ada perubahan, tak tahu kemana arah yang tertuju.. 
Kau merasa? 
Atau tidak sama sekali?..
Kata orang bijak, sebenarnya bukan perubahan tempat yang menjadi masalah, tapi diri kita sendiri yang tidak mau berubah yang menjadi masalah.. 
Buatlah perubahan dari cara kita memandang kehidupan.. 
Pasti semua terasa menyenangkan!.. 
Dunia ikut berubah ketika kita berubah..
Kita sekarang bukanlah kita yang dulu..
Menjadi manusia baru.. 
Baru dalam melihat, melangkah di dunia.. 
Dan deretan gunung takut, bimbang, ragu, cemas, kesedihan pun akan tertinggal..


 Dedicate to: Kha2

Sahabat, berbuatlah..

Menari mengikuti angin, hilang..  Terhanyut mimpi indah, lelah..  Tolong biarkan sendiri, acuhkan..  Kasih pun berbuah sepi, indah nian..  Mereka tak mengerti, sahabat..  Mereka tak mampu memahaminya, sahabat..  Bahwa sebentar lagi kau akan naik..  Bahwa sebentar lagi kau akan pergi..  Mereka tak melihat, sahabat..  Mereka juga enggan memikirkannya, sahabat..  Rapuh dinding hati, kusam.. Mengabu tertutup debu, hitam..  Nikmati panasnya terik matahari, sahabat..  Nikmati dinginnya malam gelap, sahabat..  Sahabat, yakinlah semua akan berakhir indah..  Sahabat, teruslah berbuatlah..

Apa Yang Terjadi Di Luar Diriku, Tidak Sepenting Apa Yang Terjadi Di Dalam Diriku

Bolehlah kau tampar, hina, caci diriku ini..
Bolehlah kau tusuk, tikam, bunuh jiwa diriku ini..
Bolehlah lemah, penyakitan diriku ini..
Bolehlah semua kesedihan, kemarahan menimpa diriku ini..
Bolehlah semua masalah menggunung di pundak diriku ini..
Bolehlah..
Silakan..
Tumpahkan semua..
Semua!
Hanya tak boleh semua mempengaruhi caraku melihat, memandang semuanya dengan senyum, bahagia..

Wind

Melangkanlah terus
Jangan menangis, jiwaku menyertaimu dalam belaian angin
Bila merasa tidak ada yang mempedulikanmu lagi
Selalu bayangku membias di tiap langkahmu
Teruslah berjalan temanku
Sampai akhirnya lelah menjatuhkanmu
Aku akan menjabat tanganmu, membantu berdiri sekali lagi
Jangan menangis, mari bersama kita jemput impian itu sampai akhir
Seka air matamu, majulah terus!
Buktikan bahwa kita mampu!
Buktikan kita akan tertawa keras di cerita akhir
Kau takkan merasa sendiri sampai akhir..

Dasar! anak kemarin sore...

Apa definisi sastra itu?
Aku tak tahu, juur aku goblok tentang itu..
Aku menganggapnya sebagai tempat untuk menuang perasaan..
Benar? mungkin juga salah..
Aku benar goblok kan?

Dalam dunia tulis-menulis itu ada ilmunya, apa kau tahu?
Yaah mungkin, tapi benar aku tak tahu..
Aku menulis apa saja yag ada di hati dan kepala..
Aku luapkan, tuangkan hingga batas kemampuan aku mengungkapkannya..
Tanpa mempedulikan aturan menulis itu, bebas..

Dasar! anak kemarin sore, bisa apa kau bicara tentang itu..
Serapahmu?..

Bapak Tua

Seringkali kita melihat masalah hanya dari kacamata pribadi.
Ada seorang bapak tua bersama 4 anaknya yang masih kecil-kecil, mereka naik kereta ekonomi dari Jatinegara menuju Semarang. Di dalam kereta anak-anak itu sangat ribut dan mengganggu penumpang yang lainnya, berlarian kesana-kemari, teriak-teriak tawa mewarnai keceriaan mereka.
Penumpang yang lain banyak yang merasa terganggu dengan tawa anak-anak itu. Sang bapak tua Itu sepertinya tidak mau tahu, seorang ibu memberanikan diri untuk menegur bapak tua itu.
"Maaf, pak.. apakah anak-anak itu anak bapak?,".
Tanpa menjawab bapak tua itu pelan-pelan mengangkat kepala melihat ke arah ibu yang menegurnya.
"Ada apa, bu?,". tanya bapak tua.
"Itu, pak.. anak bapak, mereka berisik dan mengganggu penumpang yan lain, tolong disuruh diam pak. Sebagai orang tua harusnya bapak bisa menjaga anak-anaknya dong, kami merasa terganggu,".
"Oh.. maaf bu, saya tidak bisa,". jawab bapak tua.
"Kenapa tidak b…

Itu Apa?

Lama sekali, benar..
Serbuk-serbuk aneh itu menghilang dari hati..
Apakah hatiku telah mati?
Entahlah..

Apakah aku trauma?
Atau takut?
Atau mencari yang lebih tinggi untuk sesuatu itu?
Sesuatu yang bernama cinta..
Entahlah..

Tak enak rasanya aku bebankan pertanyaan itu kepadamu..
Aku mau mencari jawaban tersendiri..
Tapi juga tak mengapa kamu memberi sedikit referensi..
Untukku..

Aku hanya tak mau mencampurkakan unsur yang murni itu ke dalam larutan dunia yang palsu..
Aku mau yang jelas, transparan..
Ikatan!
Itulah pengakuanku..
Pengakuan yanga aneh mungkin?
Atau membuatmu geli sendiri?
Entahlah..
Terserah kamu mau bersikap seperti apa..

Jadi, inti tulisan ini apa?
Batinmu mungkin bertanya..
Hmm..

Sekedar melampiaskan gundah, gelisahku atau apa pun lah namanya..
Tentang cinta..

Perjalanan Ke Syam

Ya Rabb
Terima Kasih atas semua kebaikanMu
yang telah memberikanku semua kenikmatan Islam ini...
Engkaulah sumber kekuatanku…
Walau begitu sering sunyi dan letih menghampiri...
Namun hening kisah abadi utusanMu selalu menghibur redup semangatku
Untuk tetap bertumbuh dalam ragam warna hari dan pendapat
Dan aku begitu merindu atas surgaMu
Walau begitu sering jiwaku merasa tak layak di sana…
Namun dibalik semua keterbatasanku...
Aku titipkan doa agar Kau mau untuk memaafkanku
Ada begitu banyak khilafku
Ada begitu banyak salahku...
namun adakah alasan lain dariku meneteskan air mata ini selain takut padaMu..

Takut pada AmarahMu, takut jika Kau tidak mengenalku kelak di akhirat nanti…

Ya Rabb
Aku belum bisa meneladani Nabi Muhammad 100%
Begitu sulit rasanya walau aku akan terus mencoba
Iman ini sering naik turun ya Rabb...
namun aku mohon jangan kau gelapkan hatiku dari hidayahMu
tak ada harta kekayaanku selain memiliki Islam dalam hidupku
tak ada kekayaan terbaikku selain menjadikan Engkau diatas segala galan…

Positif

Beberapa waktu lalu seorang pemuda minta bertemu dengan saya, dia berkata, "Ustadz, tolong bantu saya... masa depan saya hancur, saya tidak punya masa depan. Ustadz, dulu saya sejak SD selalu dapat rangking satu.. kemudian saat saya masuk kelas dua SMA, saya tidak mau rangking,".
Saya tanya,"Kenapa?,".
"Saya malu, Ustadz.. karena di wajah saya ada tompelnya,". lalu dia memperlihatkan tompel yang ada di wajahnya. Itulah sebabnya dia selalu pakai topi, dan memanjangkan rambut depannya agar dia bisa menutupi kekurangannya.
Kemudian saya katakan, "Kamu benar-benar ingin berubah?,".
"Iya Ustadz,".
"Kalau begitu ini ada Rp.10000.-, kamu sekarang pergi ke tempat cukur untuk mencukur rambut kamu sampai habis,".
"Sampai botak, Ustadz?,". tanyanya.
"Benar,".
"Saya malu, Ustadz.. saya tidak mau, saya malu".
"Baik, kalau begitu.. silakan sekarang kamu pulang.. saya tidak bisa membantu kamu, karena kamu…

Sebuah pengakuan, akan sebuah skenario..

Sebagian besar orang pasti malu menceritakan kisah sedihnya, tapi aku tidak! aku hanya menginginkan kepolosan, terus terang..
-Aku lahir dari keluarga broken home
-Aku nggak pernah ngrasain kasih sayang seorang ayah, dan kini aku tak tahu dia dimana
-Pendidikanku setara S2 (SD, MTs)
-Aku adalah individu kesepian
-Aku ini..
Bisa saja kesedihan merasuki diriku, tidak!
Aku memilih optimis, bahagia..
Aku bersyukur Dia telah membuat skenario yang indah untukku,
Dan aku ingin berbagi..
Don't be sad!

Aku, harus mengalahkan diriku!

Aku ada masalah dengan diriku..
Aku berseteru dengan diriku..
Aku melawan diriku..
Akankah aku memenangkannya, mengalahkannya?
Aku tak butuh, bantuan ribuan bala tentara..
Aku hanya butuh diriku
Aku butuh doa, aku butuh senyummu untuk menaklukannya..
Aku pernah mendengar perkataan;
Jika kamu tidak bisa menaklukan dirimu, maka kamu akan ditaklukan oleh dirimu..
Dan aku tak mau ditaklukan oleh diriku..
Aku harus mengalahkannya!
Mengalahkannya!
Mengalahkannya!