Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

BTA

Kalau ada satu mata pelajaran di Sekolah Dasar yang membuat saya keluar keringat dingin tiap sesinya, sudah pasti ya mata pelajaran agama Islam. Matematika mah, biasa. Biasa dicubit minimal. Haha. Bukan soal sejarah, kisah Nabi-nabi . Kalau itu dengan bangga banyak yang nyontek saya. Tapi kalau soal baca tulis Al-Qur'an (BTA), itu momok mengerikan buat saya kala itu, nulis masih mendinglah, tapi kalau soal baca. Byuuuuh! Jangan ditanya. Siang itu dengan harap cemas saya sudah menghitung dari deret sebelah kanan ke kiri, giliran ayat mana yang akan saya baca dari surat Al Bayinnah . Setelah berhitung, ternyata saya dapat jatah baca ayat nomer empat, teman sebangku dapat nomer tiga. Perlu diketahui, ayat tiga itu cukup pendek. Mudah dihafal, beda dengan ayat nomer empat. Setengah mampus saya ngerayu teman sebangku itu buat tuker bangku, tapi memang tidak tahu diuntung itu mahluk. Wkwkwk Padahal dia itu jago bacanya, sorenya setelah sekolah selesai ikut TPA ( Taman Pendidikan Al-Qur...

Nggak Subuhan

Pekan ketiga, subuh. Itulah salah satu pagi di setiap bulan yang lumayan saya nantikan. Kenapa? Karena ada kajian tafsir dari seorang Ustadz yang entah kenapa saya cocok dengan pembawaannya. Apalagi nggak perlu jauh-jauh, ada di Masjid dekat rumah. Tafsirnya mulai dari surat - surat pendek , mulai dari kenapa surat itu turun, bahasanya dan ini yang paling kena, hikmahnya. Ada beberapa update di blog ini yang inspirasinya dari duduk mendengarkan kajiannya. Tapi ya, namanya ingin kan nggak selalu harus. Takdirnya tepat di hari H saya tidak bisa shalat di Masjid. Lha? Iya, Allah kasih saya bisul di atas mata kaki kanan yang lumayan guede, bikin puegel, kenceng bet kaki, sudah begitu pecah. Jadi jalan aja, teng! Ke ubun-ubun, Nikmatnya ya Allah! *Hahaha hiks. Shalat jadi gaya duduk, karena kalau berdiri teng - teng - teng ituh kagak nahan. Sudah duduk pun, ketarik kan? Iya, nggak usah dibayangkan. Tapi ya namanya shalat-kan wajib dilaksanakan, apapun kondisinya, yekan? Zakat bisa gugu...

Daulat

Sepuluh tahun keatas mulai dari sekarang, Amerika tidak lagi menjadi first world country , begitupun dengan negara-negara di Eropa. Mereka menjadi negara dunia kedua . Afrika dan Amerika Latin tetap menjadi negara dunia ketiga dan negara-negara di Asia Pasifik akan menjadi negara dunia pertama . Termasuk Indonesia . Tapi, semua bukan milikmu, punya China . Sebab China mau melakukan apa yang tidak mau kamu lakukan. Mbah Nun , entah kapan beliau berkata demikian. Saya hanya dengar dari beberapa reuploader yang ada di YouTube . Terus, Mbah menerangkan kondisi Indonesia ke depan, salah satunya orang rebutan jadi penjilat, biar kaya, biar keduman dengan anekdot, ceritanya khasnya yang... Hahaha. Tentu, seperti dokter. Menjelaskan apa penyakit pasti menjelaskan sekalian obatnya. Daulat . Berdaulat atas diri sendiri. Bukan karena katanya, karena sekolah, karena sistem yang sudah ada. Berdaulat, tahu kecenderungan, konsep, bakat, apa yang dititipkan oleh Tuhan. Lalu berbahagialah! Bekerjal...

Slow Travel

Bukan, ini bukan saya buka tour travel bernama Slow Travel . Tapi tentang bagaimana sebagian besar pihak telah kehilangan kenikmatan proses perjalanan ke tempat tujuan.  Kesusu, serba buru - buru, dan itu bukan saya apalagi kita, semoga. Tapi kalau ada yang mau ngide kolaborasi bikin travel perjalanan tanpa harus banget mikirin foto estetik, buat video cinematic. Just enjoy the moment, gas lah! Haha. Pernah suatu waktu kami, saya dan istri mencoba mengikuti jadwal perjalanan kolega ketika berlibur ke Jogja .  Dalam satu hari, ada sekitar enam sampai delapan tempat 'hits' yang harus dikunjungi untuk diabadikan menjadi sebuah konten algoritma . Indah hasilnya, tapi kami seperti kehilangan sesuatu. Iya, kenikmatan menikmati perjalanan yang lambat.  Sepertinya kalau nanti ada kesempatan liburan bersama, saya dan kolega harus berpisah dan bertemu di titik tertentu saja. Slow travel, menikmati apa yang ada di kiri dan kanan. Abadikan momen di memori internal. Dah gitu aja. 😶

Jangan Ajari Dia, Ikhlas

Matematika yang dia pakai beda dengan matematika kita. Begitu kesimpulan teman - temannya tentangnya ketika membahas tentang sandang papan kehidupan . Kalau setiap bulan setengah dari pendapatan suaminya hanya jadi angka yang mampir di rekeningnya. Bagaimana ikut patungan beli kambing atau sapi buat Qurban , sandwich generation . Wajar. Tapi, kalau pun bisa Qurban pasti hanya muncul di papan pengumuman. Begitu kata teman terdekatnya ketika membahas tentang apa itu pengorbanan di Hari Raya Kurban . Jadi, jauh sebelum napak tilas penyembelihan Nabi Ismail oleh Nabi Ibrahim untuk dikurbankan. Hampir setiap bulan, setiap hari dia sudah menyembelih ego-nya , sudah satu dekade berjalan. Tidak kelihatan dan memang bukan untuk diperlihatkan. Lalu apakah kehidupannya sengsara, nelangsa, biasa? Oh, tentu saja tidak kawan. Dia menjalani kehidupan yang lapang, puas dengan pilihan - pilihannya. Dan Tuhannya tentu saja tidak tinggal diam. Jadi, jangan ajari dia.