Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2022

Bicara Anak

  Waktu masih jomblo, pertanyaan yang paling sering saya dapatkan pastinya, Kapan nikah? Banyak sejarah pembullyan, shitposting di timeline saya, dan pasti komentar selalu ramai Setelah menikah, pertanyaannya berganti, dan tentu saja sudah bisa ditebak. Sudah punya anak belum? Dan perkara pertanyaan ini sudah lumrah sekali di masyarakat Indonesia yang ramah tamah, tepo sliro, gemah ripah lohjinawi. Syukur alhamdulillah, Gusti Allah belum ngasih saya amanah dan titipan, rezeki dalam bentuk seorang anak. Kalau dalam bentuk lain, buanyak. Tapi ada juga pernyataan yang bisa bikin sakit hati, terutama untuk istri. Semacam ini, - Buat apa duit banyak, kalau bukan buat anak. - Tinggal berdua aja, ngurusin kucing. Nggak sepi emang. - Dan seterusnya.. Tapi untuk saya pernyataan seperti itu mah, fine - fine aja. Bodo amat, saya kan cuma peserta. Peserta dalam ujian-ujian, yang kebetulan salah satu soalnya tentang menunggu.. Seperti Ibrahim dan Sarah merindukan Ismail. Yang kemudian menyusul Isha

Biasa Saja

  Iya, saya merasa biasa saja. Saya merasa semua pencapaian, kalau bisa disebut pencapaian ya. Effortless. Yang keliatan dakik - dakik itu, menurut orang yang sudah saya tanya. Saya nggak merasa terlalu banyak berusaha. Masa sih? Iya, saya cuma menjalani, melakukan, jatuh, bangun, duduk, berdiri, lari. Ya, cuman gitu - gitu aja rasanya. Tapi kok bisa? Iya, saya percaya semua yang terjadi dari awal dan kini karena.. Doa ibu saya, dan tentu saja ridhanya.

Bodo Amat

  Bukan bermaksud tidak peduli, tapi memprioritaskan hal apa yang perlu menjadi perhatian. Mungkin kalau saya nggak begitu, saya saat ini masih jadi, tukang ngecat tembok, jualan pulsa, atau mamang nasi goreng. Yang semuanya nggak ada salahnya sih Tapi kan saya punya kecenderungan pingin rebahan, banyak uang dan bermanfaat bagi banyak orang. Jadi dulu, saya bodo amat sama nyiyiran, cibiran, sindiran dan an - an lainnya. Saya menikmati, fokus berproses untuk menggapai kecenderungan saya diatas. Jadi, udah dapat belom? Untuk rebahan Banyak uang ( cukup aja kali ya bahasanya ) Bermanfaat bagi banyak orang? Entahlah. Bodo amat, saya kan cuma peserta. Peserta Rapat. Foto : Bundaran Harapan Indah, kala itu.

Jadi Apa?

  Masih tetap, tidak ada keharusan begini begitu. Punya ini, punya itu. Masih jadi, Peserta Rapat x Support Hero. Masih konsisten jadi seseorang yang semoga Gusti Allah harapkan. Aamiin. Foto : Suhu Roby Kurniawan sedang sidak ke rumah.

Sertifikasi SEO

  Mas, kok nggak ngerespon soal ribut - ribut sertifikasi SEO kemarin? Mas kan juga termasuk orang lama yang main SEO. Ini baru respon, karena akhirnya ada yang nanya. Iya, kamu. Kamuuuu. Hmmm.. Mungkin keributan adalah jalan ninja mereka. Menarik pembicaraan, engagement dan akhirnya kan bisa jualan workshop atau seminar. Mayan kan? Haha Memang apa sih perlunya sertifikasi? Sertifikat itu dibuat untuk yang butuh aja, kalau nggak butuh ya gapapa. Yang penting kan hasilnya? Sama aja kayak pertanyaan, memang belajar harus di sekolah? Alam ini dan semua isinya adalah ruang belajar yang tidak akan ada habisnya dipelajari sampai mati. Dah gitu aja. Foto : Burger jualannya istri saya di avorganic.id yang lebih mahal dari burger McD.

Komentar

  Apa semua hal perlu dikomentari? Atau kita tunggangi untuk keperluan eksistensi? Dulu saya begitu, nggak ada kerjaan emang wkwkwwk Apa saya harus kasih solusi, sedangkan yang punya masalah nggak minta solusinya. Apa saya harus menjawab, kalau yang ngasih pertanyaan saja nggak ada. Apa saya harus berkomentar, sedangkan yang dikomentari saja.. terusin sendiri. Emang pinter si mang Mark Zuckerberg nanya melulu apa yang kita pikirkan. Kepo banget Adakalanya menjadi pengamat komentar lebih seru, makannya kerjaan saya sekarang namanya.. Social Media Analysis. Keren yak? Padahal bahasa Indonesianya, Tukang Baca Komentar.

Menari Bersama Ombak

  Le, dunia sekarang kok jadi begini ya? Ya memang sudah seharusnya begini Mak, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ya, kasihan aja. Memang semua sudah di skenariokan, virus yang memisahkan, mempercepat laju digital, runtuhnya dollar. Dan lain sebagainya. Yang penting bagaimana kita menyikapinya kan? Bagaimana kita bisa memprediksi gerakan 'elit' itu biar kita nggak goblok - goblok amat Itulah sebagian kecil obrolan pagi ini diantara perjalanan Bekasi - Pemalang. Tapi selain sikap, keyakinan kita kepada-Nya lah yang membuat semua urusan dunia yang ribet itu, OMONG KOSONG.

Miskin Tapi Sombong

  Sampailah bacaan kami, di bab 72 kitab Riyadhus Shalihin, tentang takabur dan ujub. Dan saya agak bingung, di hadist tentang golongan yang dicuekin oleh Allah di hari Kiamat, salah satunya adalah orang miskin yang sombong. Emang macam mana tuh, yang? Tanya saya ke istri. PR Abang lah, nanti jelasin yak. Ok Jadilah saya cari definisi tentang sifat sombong, yang membuat Iblis diusir dari surga. Sombong adalah menolak kebenaran. Wajar sombong apabila ada yang bahan bisa disombongkan. Nah, kalau nggak ada? Biar tekor asal kesohor? Biar miskin asal sombong? Ternyata itu, sebabnya. Kenapa nanti dicuekin, belagu sih lu! Jadi inget potongan lirik ini, Koe Chi ne Ulip Ku whe di Syukuri Kabehane (Kuncine urip kuwe disyukuri kabehane) A Yem Thеn Trem Kephe nak Awakе (Ayem tentrem kepenak awake) Soe Guh duit Aja Pelit, Angger mish xin A Jha i shin (Sugih duit aja pelit, angger miskin aja isin) ULip shing PenThing berKahee (Urip sing penting berkahe) Notes foto : Itu bukan rumah saya, belum