Itulah kenapa, sebelum menikah saya sudah berkomitmen untuk istri, bahwa dialah ibu rumah tangganya, bukan ibuku maupun ibunya.
Alhamdulillah.
Komentar saya dalam sebuah utas di Threads. Kelihatan visioner ya? Tapi kalau ditarik ke belakang, jauh sebelumnya, jauh sekali rasanya.
Kenapa? Karena perkataan itu terbentuk dari pengalaman yang diceritakan dan tidak diharapkan terulang di kehidupan saya, anaknya. Betul, pengalaman Ibu saya.
Itulah kenapa syarat saya menikah adalah mempunyai sebuah rumah atau setidaknya tinggal. Dimana nanti menantunya berkuasa penuh, menjadi ibu rumah tangganya.
Karena sebaik apapun dia, sebaik apapun menantunya. Ada peran yang tidak boleh digantikan dalam sebuah rumah tangga, karena apabila tidak demikian niscaya ada kejadian yang tidak menyenangkan diantaranya.
Itulah kenapa pekerjaan di kartu identitas kependudukan ada namanya, ibu rumah tangga.
Bukan untuk merendahkan, tapi karena itulah fitrah mulia seorang wanita.
Jika tidak? Sebaiknya jangan gegabah.
😌

Komentar
Posting Komentar