Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Nikah Lagi

A : Kita nanti nikahnya nanti sederhana saja ya, akad , habis itu makan - makan dengan keluarga dan teman dekat. V : Siap bang! Itu dialog kira - kira, tapi kejadiannya asli, beneran. Menikah di hari Jum'at, Juli dua ribu enam belas. Kenapa? Iya, kenapa ya? Buat jadi contoh mungkin untuk generasi mendatang. Halah! Kejauhan. Haha. Tapi ya, semakin kesini semenjak Plandemic Covid makin realistis kan opsi nikah sederhana ? Ya, kecuali punya previlege orang tua kaya raya, atau memang sudah sukses sebelum usia dua puluh tahunan. Monggoh lah, dimulai pestanya. Jadi poin tulisan ini apaan? Ya, kalau merasa sudah sekufu , visi - misi , frekuensi , vibrasi . Gas lah, nikah. Meski cuma akad di KUA , misalnya. Jauh dari zina , jadi punya belahan jiwa . Halal !

Fast Living

Slow Living itu orang gagal lalu menepi. Agak provokatif? Iya, itu click bait dari sebuah YouTube thumbnail . Tapi ada benarnya nggak sih? Belum saya nonton tapi, mungkin nanti. Sudah banyak yang bahas apa itu slow living baik secara definisi maupun eksekusi. Tapi belum terlalu kelihatan yang bahas sebaliknya. Ada akibat pasti ada sebabnya. Nah sebabnya ini yang harus dielaborasi dulu seharusnya. Menurut keyakinan saya. Kadang kita terlalu bangga dengan kata “cepat”. Cepat kerja. Cepat selesai. Cepat berhasil. Seolah-olah yang cepat itu pasti benar. Saya sering lihat, dan mungkin kita juga pernah *Ah lu aja Ndri.  Ketika ngerjain sesuatu sambil buru-buru, hasilnya justru banyak yang terlewat. Ada yang salah. Ada yang kurang. Ada yang harus diulang. Akhirnya yang tadinya mau hemat waktu, malah jadi buang waktu yak? Hari ini, hidup di zaman yang semuanya kalau bisa dipercepat. Makan ingin cepat. Belajar ingin cepat. Sukses juga pengennya cepat. Apa benar hidup harus selalu cepat? A...

Panoramic

Anonim 1 : Kereta apa ini? Kereta horang kaya pasti. Anonim 2 : Ini berapa tiketnya? Mirip sama Whoosh. Anonim 3 : Keren bet keretanya. Setidaknya itu komentar beberapa teman ketika saya update stories naik kereta wisata Panoramic . Mereka nggak tahu aja kalau beli tiketnya pakai kasbon bulan April. Wkwkwk Tapi tak mengapa lah, demi pengalaman, demi menyenangkan istri, demi kejutan di hari Anniversary . Nggak seratus persen kejutan sih, karena awalnya memang saya beli tiket biasa buat pulang Bandung - Bekasi . Lalu upgrade diam - diam tanpa sepengetahuan istri. Rencananya tidak mau saya beritahu sampai waktunya pulang hari Senin. Tapi ya, karena sudah tahu punya istri agak laen, antimainstream. Ya sudah, di kereta perjalanan berangkat saya beritahu saja. Karena saya sudah tahu ekspresinya nanti. Hiks. Q : Eh Ndri, bukannya lu nikah bulan Juli ya? A : Iya, betul. Q : Terus kenapa Anniversary-nya April? A : Eh, mohon maap kita nikah di Bulan Syawal . Pake kalender Hijriyah bo...

Bersamamu

Penyusup, itulah kata awal yang kusematkan untuk kehadiranmu yang kala itu serasa mengganggu. Lalu seiring berjalannya waktu, asam garam, jatuh bangun, kata itu berubah menjadi, teman hidup . Bersamamu. Awalnya tak pernah terlintas bagaimana caranya. Tapi ternyata caranya sendiri yang datang menjawab semua pertanyaan semua kemustahilan. Asal, bersamamu. Sekarang, aku ingin membuat pertemanan ini manjadi abadi, tidak terikat waktu, tidak menua, tidak ada akhirnya. Dengan usaha, dengan tunduk pasrah dengan segala ketentuan-Nya . Dalam kesempitan dalam kelapangan. Dalam ketidaksempurnaan yang berharap sempurna, masih bersamamu. 17 Syawal 1447 Hijriyah .

Menjadi Manusia

P : Gimana, bapak gue ada? Sudah ketemu kan? Kalimat itu terdengar biasa saja. Tapi bagaimana kalau kalimat itu keluar dari seorang anak yang siang tadi menguburkan bapaknya? Keluar dari seseorang yang berusaha saya dan teman - teman hibur malamnya. Keluar ketika ada tamu yang datang ( katanya teman SMP ) ke Rumah Duka? Dark jokes jadinya kan? Tapi mungkin, karena memang yang berkata sudah selesai dengan dirinya. Memang agak laen sih orangnya. Haha. * Ketawa dosa Tapi itu jugalah yang membuat sirkelnya mau datang jauh-jauh ke rumahnya dari Bekasi ke Pamulang sana. Termasuk saya, entah kenapa. Bicara sirkel, inilah lingkaran yang membuat saya merasa menjadi manusia Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika. Penasaran kenapa? Nanti saya bahas kapan - kapan yak! Wkwkwk Dah gitu aja.