Ketika Anda gagal jadi orang sukses , sebenarnya Anda sudah sukses jadi orang gagal . Ingat, ini cuma soal merubah sudut pandang saja. Kalau merasa sukses, ingat masih ada yang lebih sukses. Kalau merasa gagal, ingat juga masih ada yang lebih gagal. Ingat, lagi - lagi cuma soal merubah sudut pandang saja. Jadi, hiduplah biasa saja, tidak perlu jumawa ataupun merasa paling nelangsa. Terus bergerak , jangan berharap pada negara. Namanya juga, hidup di dunia cuma sementara.. Akhirat selama - lamanya .. Orang kaya mati, orang miskin mati.. Raja - raja mati, orang biasa mati.. Lah, kok malah nyanyi.
Ada salah satu kesamaan antara saya dengan istri yang sepertinya perlu disyukuri dan maknai lebih dalam. Kami berdua tidak suka ada benda yang melekat dengan tubuh, terutama perhiasan . Istri tidak suka pakai, cincin, gelang, kalung apalagi jam tangan . Pun saya, boro - boro pakai cincin atau gelang misalnya. Pakai jam tangan saja kalau kepengen saja. Ah, elu nggak beliin kali Ndri! Eh, jangan salah. Waktu mengajak menikah saya tanyakan mau mahar perhiasan apa. Beneran apa saja, karena memang rezekinya ketika mau menikah sangat berlimpah. Sekarang juga sih, nggak kurang - kurang nikmat-Nya. Hehe. Istri malah memilih logam mulia saja. Ya sudah, saya terima dan tambahkan uang tunai beberapa. Pernah saya juga belikan jam tangan, ya, sesekali dipakai setelahnya entah pergi kemana-mana itu jam. Haiya! Benang merah yang bisa saya petik, kami berdua memang tidak suka ada yang melekat, terutama soal perhiasan, soal dunia. Belajar bahwa sebenarnya kami tidak memiliki apa - apa tanpa menafikan...