Ganjal




Lha, nanti kalau di akhirat sana masuk neraka tanpa tahu salah sama siapa atau salah apa, konyol juga kan? Memang Tirta rambut pink buajingan tenan, lebih baik saya minta maaf duluan, gengsi pasti, awalnya.

Kurang lebih begitu yang saya tangkap dari monolog Dr Tirta di sebuah event Malaka.

Kenapa tiba-tiba bahas beginian? Sedang merajut benang merah saja semingguan ke belakang. Setelah ngobrol dari Sabang sampai Merauke yang diawali dengan makan siang lontong Medan di tempat kolega, terus pulangnya kepikiran nulis buat update blog mingguan.

Bahwa, sebisa mungkin saya berusaha tidak punya sesuatu yang mengganjal dalam sebuah hubungan. Dari pertemanan, kerjasama sampai soal perniagaan. Mulai dari awal maupun ketika waktunya berpisah karena berbeda tujuan.

Karena sebelum makan siang lontong Medan itu di suatu pagi yang biasa, tidak ada angin tiada hujan. Kolega yang lain, dulu sekali pernah satu kapal kirim pesan. Yang intinya meminta maaf dan apabila ada yang kurang tuntas tolong disampaikan.

Ya, tentu saja kalau dari sayanya bilang sudah tidak ada. Sudah saya nol kan, hilang sejak lama. Looss pol pokoknya.

Gusti Allah sing ganti, dan sudah terbukti. Tapi kalau masih mengganjal terasa sih, saya tidak pernah menolak niat baik.


Aseeek, kode nuklir ini mah. Wkwkwkwk.

Komentar

Tujuh Hari Dilihat