Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2026

Stages of Marriage

Bersama, kita akan mengarungi samudra luas. Berlayar menuju matahari tenggelam di penghujung cakrawala. Tempat pulang untuk Odysseus itu bernama, Penelope . Kira - kira itulah salah satu hikmah yang bisa saya dapatkan setelah menonton The Odyssey yang berdurasi kurang lebih tiga jam. Untungnya, tanpa direncanakan dan sudah rezekinya nonton di bioskop yang bisa sambil rebahan dan pesan makanan. Norak yak? Biarin napah! Haha. Kita semua sebenarnya kurang lebih sama seperti Odysseus. Sama seperti Penelope. Semingguan ini saya diingatkan lagi tentang makna pernikahan, apa itu ikatan. Baik dari internal maupun eksternal. Ada yang baru saja ditinggal meninggal. Ada yang baru memulai perjalanan. Ada yang sedang lucu-lucunya merawat anak titipan Tuhan. Ada yang berpisah karena ternyata berbeda tujuan. Ada juga yang baru memulai dari awal setelah berpisah, lalu bersama dengan jiwa yang baru dikenal. Ada juga yang masih dalam tahap penantian. Dan ada - ada yang lainnya, kemudian. Bagi saya sen...

Cut Off

Semakin dewasa alias tua, nggak pengen banyak drama dalam perjalanan kehidupan. Sat set gitu lah, iya nggak? Iyain aja. Ah, elu aja Ndri yang tua! Iya, okeh dah dari dulu jiwa gue memang tua. Wkwkwkw Nggak diajak, ya udah. Nggak dihargai , hargai balik, tapi murah lah. Haha. Nggak perlu nebak kenapa, karena kalau dilanjut jadi mengapa. Kita kan cuma perlu menilai dari yang terjadi saja, selebihnya, ya ndak tahu, jangan tanya saya. V : Biar nggak banyak pikiran bang, cut aja sudah. A : Gitu yak. Ok, laksanakan. Padahal saya aslinya nggak banyak pikiran, lha wong sudah diusahakan, diupayakan. Sisanya terserah Tuhan . Tapi saran dari istri, kebanyakan banyak benarnya.

Empathy

Gue lebih suka ngasih ke Pak Ogah daripada ke Peminta-minta dengan modal tampang dekil, apalagi masih muda. Setidaknya Pak Ogah ada effort ngatur lalin, ada kerjanya. Kata seorang partner bisnis, sekarang teman, dulu sekali yang teringat lagi Minggu ini. Awal-awal saya merasa kok ini orang nggak ada empatinya, tapi pengalaman dan kelamaan hidup di Jakarta sekitarnya jadi membuat statement diatas masuk akal sih. Apalagi pemicu keresahan ini gegara istri kok sering skip nggak ngasih kalau ada Peminta-minta yang skin-nya saja yang meyakinkan, tapi masih segar bugar, YTTA lah. Ditambah pagi waktu itu setelahnya ada bapak-bapak, lebih ke usia kakek - kakek yang memilih memulung botol bekas. Lebih make sense ngasih ke bapaknya kan? Walaupun dia nggak minta. Eh, malamnya saya beli Tongseng Kambing buat lauk, nggak bawa uang cash cuman bawa HP, ada dua orang Peminta-minta selama durasi menunggu pesanan dibuatkan. Satu, Pengamen yang nggak jelas lagunya apa, kalau ada yang ngasih langsung kelar...

Soal Kaya

Pantesan, orang kek gini nggak boleh dikasih kaya. Kalau dikasih, bisa dijadikan budak kita. Halah, itu Donal Bebek kaya dia. Kelakuannya bikin se-dunia pen nyubit ginjalnya. Kurang golden spoon apa dia? Jangankan Paris. Bumi ke bulan aja bisa keknya tiap tahun buat agenda. Lho, kok kesana? Itu kan memang sudah jatah karakter dia buat dijadiin villain dari Penciptanya. Buat contoh di zaman sekarang, buat teladan, sama kek Fir'aun , Qarun dan lain sebagainya. Terus memang ada contoh orang kaya yang baiknya kebangetan? Ada lah! Yang paling ekstrem sedekahnya aja bisa bikin inflasi sebuah negera, Mansa Musa namanya. Ok, terus hubungan sama pernyataan di awal-awal ini tulisan? Hubungannya pasti dengan uanglah. Uang nggak mengubah karakter seseorang, uang berfungsi sebagai katalis yang memunculkan sifat dan karakter asli yang selama ini terpendam oleh keadaan. Iya, pernah dong kita ngerasa begitu dengan seseorang atau sesebapak yang dikasih jabatan Presiden sebuah negera Kepulauan? Lh...