Agak lupa saya dengan alur kisah Israiliyat ini, dikarenakan hanya nyimak potongan hikmahnya saja subuh barusan, jadi versi lengkapnya kelewatan karena subuhan di Masjid yang berbeda jurusan.
Alangkah baiknya saya kutip kisahnya saja yak, karena biasanya kisah Israiliyat ini banyak yang ajaib biasanya. Agak di luar nalar. Kita tidak boleh menyalahkan, tidak boleh membenarkan.
Sumber orisinal ada di Hadist Shahih Imam Bukhari dan Muslim tentu saja. Dan ini representasi ala saya. Lebih tepatnya AI yang saya latih menjadi saya.
*Apaan sih Ndri? Ya begitulah, baca aja dah! Semoga ada hikmahnya.
Ada kisah tentang tiga orang. Satu kena kusta. Satu botak. Satu buta. Mereka miskin. Mereka menderita. Mereka ingin hidup normal.
Allah sembuhkan. Allah kasih mereka harta.
Dalam waktu singkat. Yang dulu kekurangan berubah menjadi berkecukupan. Tapi kemudian datang ujian.
Ada orang miskin meminta bantuan. Dua orang menolak. Ketika diingatkan:
“Bukankah dulu kamu juga seperti ini?”
Mereka malah lupa. Lupa pernah susah. Lupa pernah meminta. Lupa pernah berharap. Lupa pernah berada di posisi orang yang sekarang mereka tolak.
Yang lebih menyakitkan? Mereka bahkan menyangkal masa lalunya. Seolah-olah...
KESUKSESAN MEREKA MURNI KARENA USAHANYA.
Padahal kalau bukan karena Allah. Mereka mungkin masih berada di kondisi yang sama. Tapi orang ketiga berbeda. Dia pernah buta. Dia ingat. Dia pernah miskin. Dia ingat. Maka ketika ada orang meminta bantuan. Dia tidak banyak bicara.
Dia membantu. Karena dia tahu:
“DULU SAYA JUGA PERNAH DI POSISI INI.”
Dan ternyata, Orang yang datang itu adalah malaikat. Mereka sedang diuji. Dua gagal. Satu lulus.
Sekarang coba lihat diri kita. Berapa banyak orang yang berubah setelah punya uang. Dulu ramah. Sekarang susah ditemui. Dulu gampang membantu. Sekarang banyak alasan. Dulu menghargai orang. Sekarang melihat orang dari isi rekening.
Dulu bilang:
“Kalau saya sukses, saya mau membantu banyak orang.”
Begitu sukses...
ORANG LAIN MALAH DIANGGAP BEBAN.
Lucu. Kita sering berdoa supaya Allah mengangkat kehidupan kita. Tapi tidak pernah berdoa:
“Ya Allah, kalau Engkau angkat aku, jangan biarkan hatiku ikut terangkat.”
Karena yang berbahaya bukan punya banyak. Yang berbahaya...
MERASA SEMUA ITU KARENA KITA.
Jangan lupa. Dulu kamu juga pernah nol. Dulu kamu juga pernah bingung. Dulu kamu juga pernah meminta. Dulu kamu juga pernah berharap ada seseorang yang menolongmu.
Kalau hari ini kamu sudah di atas...
JANGAN MENERTAWAKAN ORANG YANG MASIH DI BAWAH.
Karena posisi bisa berubah. Hari ini kamu yang memberi. Besok bisa jadi kamu yang meminta. Hari ini kamu dibutuhkan. Besok bisa jadi kamu yang membutuhkan.
Dan kalau Allah sedang memberikanmu lebih...
Jangan cuma hitung:
“Berapa yang saya punya?”
Tapi tanyakan:
“Berapa banyak yang sudah saya bagikan?”
Sebab pada akhirnya. Kita bukan diuji cuma dengan kekurangan.
KITA JUGA DIUJI DENGAN KELEBIHAN.
Dan kadang. Ujian yang paling berat bukan ketika kita kehilangan semuanya.
Tapi ketika kita mendapatkan semuanya.
LALU LUPA SIAPA YANG MEMBERIKAN.

Komentar
Posting Komentar