Langsung ke konten utama

Postingan

Masih Tujuh Belasan

Apa yang membuat kalian warga Malaysia iri kepada Indonesia ? Selain keramahtamahan orangnya ketika bertatap muka? Baca utas di Threads itu kok jadi senyum sendiri, bersyukur, sedikit ngenes, tapi ada harapan juga dari jawaban - jawabannya tetangga sebelah. Tapi ya sudah, bahas yang lain saja yang masih berkaitan lah yak. Masih tujuh belasan. Tepatnya tujuh belasan ke lima puluh lima buat dia yang jarang kata - katanya saya abadikan lagi di label Ibuku blog ini, maapin ya Mak! Langsung anakmu eksekusi di dunia nyata soalnya. Haha. Iya, Ibu saya dilahirkan tepat di hari ini, tujuh belas Agustus tahun sekian. Tidak pernah dirayakan atau merayakan, tapi tetap dimeriahkan seluruh rakyat Indonesia. Hmm, tetap dimeriahkan walaupun petugas yang dibayar, ada saja kelakuannya. Ada saja gebrakannya. Eh, kok kesana lagi. Inginku berkata kasar. Wkwkwk Dah gitu aja. Dirgahayu Emak dan Republik Indonesia .

Mending

Kamu masih mending, kalau aku nggak tahu rasanya ditinggal pergi Ayah merantau. Karena sudah dari lahir ayahnya nggak ada di rumah, jadi biasa saja yak.  Begitulah nasehat 'mencoba bijak' saya kepada ponakan usia kelas satu SD di sore hari yang ditinggal ayahnya mencari penghidupan ke negeri seberang. Setelah paginya ditinggal dan sesenggukan, ditambah istri saya juga ikut-ikutan. Tapi malah lebih menjiwai dari sang ponakan. Bah! Akhirnya siangnya kami bertiga pergi ke wahana bermain, sebagai pengalih perhatian. Momentum yang pas memang saya pulang ke Malang, selain sebagai penghiburan. Juga dapat pembelajaran. Oh, ternyata begitu yak rasanya. Jadi, adu nasib jadi bahan nasehat dan perbandingan. Wkwkwk  Terus gimana caranya biar sukses dan banyak uang seperti CEO? *Tanya randomnya ke saya Eh, salah saya bawa dia tarik tunai ke ATM sampai muncul itu pertanyaan. Kebanyakan nonton dracin itu bocah keknya. Abisin jatah gagal yang banyak dan berteman dengan kesepian. *Jawab saya se...

Source Code

Ada perusahaan AI beli buanyak banget buku, termasuk yang sudah tidak dicetak untuk di scan untuk dimasukkan di database mereka untuk melatih AI . Sayangnya, setelah di scan bukunya dimusnahkan. Jadi banyak spekulasi. Dari sisi bisnis ya wajar, ibaratnya gue sudah beli, terserah itu buku mau gue apain-lah. Mau gue monopoli isinya ( source code ) biar perusahaan gue jadi yang terdepan, paling paham. Harus untung-lah, namanya juga orang dagang, haha. Iya juga sih, tapi kan nanti elo gampang kalau mau manipulasi. Ya, itu juga resiko. Jayalah perabadan mesin berpikir mandiri! Jaya! Jaya! Jaya! Terlalu menjiwai Ndri! Wkwkwk Paling tidak hikmah dari berita ini ada kesadaran. Kenapa ada satu kitab suci yang bisa dihafal jutaan manusia, ada ratusan ribu perkataan manusia yang tidak dilukiskan wajahnya bisa menjadi panduan dalam kehidupan. Dan tentu saja, ada Tuhan Yang Berkehendak menjaganya sampai akhir zaman.

Stages of Marriage

Bersama, kita akan mengarungi samudra luas. Berlayar menuju matahari tenggelam di penghujung cakrawala. Tempat pulang untuk Odysseus itu bernama, Penelope . Kira - kira itulah salah satu hikmah yang bisa saya dapatkan setelah menonton The Odyssey yang berdurasi kurang lebih tiga jam. Untungnya, tanpa direncanakan dan sudah rezekinya nonton di bioskop yang bisa sambil rebahan dan pesan makanan. Norak yak? Biarin napah! Haha. Kita semua sebenarnya kurang lebih sama seperti Odysseus. Sama seperti Penelope. Semingguan ini saya diingatkan lagi tentang makna pernikahan, apa itu ikatan. Baik dari internal maupun eksternal. Ada yang baru saja ditinggal meninggal. Ada yang baru memulai perjalanan. Ada yang sedang lucu-lucunya merawat anak titipan Tuhan. Ada yang berpisah karena ternyata berbeda tujuan. Ada juga yang baru memulai dari awal setelah berpisah, lalu bersama dengan jiwa yang baru dikenal. Ada juga yang masih dalam tahap penantian. Dan ada - ada yang lainnya, kemudian. Bagi saya sen...

Cut Off

Semakin dewasa alias tua, nggak pengen banyak drama dalam perjalanan kehidupan. Sat set gitu lah, iya nggak? Iyain aja. Ah, elu aja Ndri yang tua! Iya, okeh dah dari dulu jiwa gue memang tua. Wkwkwkw Nggak diajak, ya udah. Nggak dihargai , hargai balik, tapi murah lah. Haha. Nggak perlu nebak kenapa, karena kalau dilanjut jadi mengapa. Kita kan cuma perlu menilai dari yang terjadi saja, selebihnya, ya ndak tahu, jangan tanya saya. V : Biar nggak banyak pikiran bang, cut aja sudah. A : Gitu yak. Ok, laksanakan. Padahal saya aslinya nggak banyak pikiran, lha wong sudah diusahakan, diupayakan. Sisanya terserah Tuhan . Tapi saran dari istri, kebanyakan banyak benarnya.

Empathy

Gue lebih suka ngasih ke Pak Ogah daripada ke Peminta-minta dengan modal tampang dekil, apalagi masih muda. Setidaknya Pak Ogah ada effort ngatur lalin, ada kerjanya. Kata seorang partner bisnis, sekarang teman, dulu sekali yang teringat lagi Minggu ini. Awal-awal saya merasa kok ini orang nggak ada empatinya, tapi pengalaman dan kelamaan hidup di Jakarta sekitarnya jadi membuat statement diatas masuk akal sih. Apalagi pemicu keresahan ini gegara istri kok sering skip nggak ngasih kalau ada Peminta-minta yang skin-nya saja yang meyakinkan, tapi masih segar bugar, YTTA lah. Ditambah pagi waktu itu setelahnya ada bapak-bapak, lebih ke usia kakek - kakek yang memilih memulung botol bekas. Lebih make sense ngasih ke bapaknya kan? Walaupun dia nggak minta. Eh, malamnya saya beli Tongseng Kambing buat lauk, nggak bawa uang cash cuman bawa HP, ada dua orang Peminta-minta selama durasi menunggu pesanan dibuatkan. Satu, Pengamen yang nggak jelas lagunya apa, kalau ada yang ngasih langsung kelar...