Langsung ke konten utama

Postingan

Tunggu Aku Sukses Nanti

Mata saya berkaca - kaca saat adegan bapaknya Arga menyatakan bangga dan meminta maaf, soal keadaan keluarga yang membuatnya memikul beban yang tidak seharusnya dia pikul sendirian. Sebagai fatherless person, saya menduga mungkin begitulah ternyata rasanya punya sesosok "Ayah Sungguhan" di keluarga. Iya, adegan itu mengandung bawang. *Hiks Film ini mengajarkan soal apa itu validasi, angka cukup dan artinya manjadi dewasa itu sendiri. Juga ini, jangan berburuk sangka. Sebuah pesan plot twist. Itu kenapa saya nonton dua kali, pertama dengan istri, kedua dengan mertuanya istri. Jadi, rekomendasi? Wajib! Wahai kawanku yang ingin merasa dicintai agar tidak kehilangan diri. Hihi.

Amal Andalan

  Sembunyikan amalanmu sebagaimana Dia menyembunyikan aib-aibmu. Di tengah keramaian ibadah yang bisa divalidasi menjadi citra diri, sepertinya kuwot yang saya tulis di dua ribu sembilan belas diatas masih relevan, in this economy. Tentunya setiap kita, bukan, tapi saya. Tidak akan mungkin mencontoh amalan Nabi seratus persen, jangankan seratus, lima sampai sepuluh persen saja rasanya sudah, wah sekali. Maafkan kami ya Nabi. Kiranya Engkau sudi kami akui sebagai satu-satunya pemberi syafaat di Hari Akhir nanti. Ijinkan kami. Karenanya, setiap kita, eh saya maksudnya. *Iya maap, ngapain ngajak-ngajak yak Harus punya amalan andalan yang konsisten, yang mungkin tidak populer, tapi bisa kita banggakan, setidaknya. Bukan di dunia ini, murah sekali. Tapi nun jauh disana nanti. Di hadapan Pemilik Awal dan Akhir hari, dan tentunya Engkau juga wahai Nabi. Terus amalanmu apa Ndri? *Halah di awal kan udah ditulis sih, malu sama aib   Ok, biar ada gambaran. Asisten saya a.k.a Kecerdasan...

Tanpa Penyesalan

E : Mama tidak ada penyesalan sama sekali selepas kepergian Simbah, Le. Statement yang bold sekali, dan saya bersaksi bagaimana perjuangan, perjalanan seorang anak perempuan yang berusaha membahagiakan Ibunya , dimana itu bukan kewajibannya. Hidup tanpa penyesalan . Itulah kata yang sebisa mungkin diupayakan bisa juga saya ucapkan kelak. Terkadang bukan pilihan yang selayaknya dipilih manusia pada umumnya. Tapi sejak kapan standar selayaknya manusia itu jadi pilihan yang tepat? Kadangkala, jalan yang dipilih itu sunyi. Tidak banyak yang mengerti. Tapi disitulah, kata hidup tanpa penyesalan menemukan arti.

Ketemu Simbah

Awal Ramadhan seribu empat ratus empat puluh lima , saya tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan Simbah . Di kamar hotel Le Meridien Towers Makkah , bada Ashar setelah seharian saya terbaring di ranjang dikarenakan kelelahan, lemas. Masuk angin tepatnya, setelah umroh pertama sehari sebelumnya. "Le, matur nuwun ya. Matur nuwun, matur nuwun". Begitu ucapnya setelah mendekati saya dari arah Jendela, didampingi oleh seseorang yang tidak jelas wajahnya. Saya yang belum siap mencerna apa yang terjadi, hanya bisa mengangguk kepala pelan tanpa bisa menjawab. Simbah tersenyum, lalu pelan-pelan pergi bersama orang yang bersamanya. Mirip adegan ketika Thanos menjentikkan jari ketika berhasil mengumpulkan Infinity Stones , klik! Lalu separuh populasi manusia menghilang. Saya terbangun, haru, merinding tentu saja. Tengok kanan - kiri dan tidak ada siapa-siapa kecuali roommate saya di kamar sebelah. Setelahnya saya video call Ibu di rumah, dan bercerita tentang ' peristiwa ast...

Month of the Soul

Ramadhan adalah bulan untuk ruh atau jiwa mendapatkan haknya. Sebentar, jiwa dan ruh itu entitas yang berbeda. Begitu juga dengan sukma. Ruh adalah... *Bukan itu fokus tulisan ini Ndrie. Iya yak. Lain kali bahasnya bisa kale? Coba komentar di bawah. Eh. Berhenti sejenak, memberi kesempatan jiwa untuk disapa, ditanya, bagaimana kabarnya? Ramadhan memberikan kesempatan itu semua, lewat berpuasa , shalat malam,  membaca firman-Nya , bersedekah , berzakat sampai beri'tikaf . Adakah dia baik-baik saja? Atau mendapatkan duka di sebelas bulan sebelumnya? Lelah yang bertambah - tambah, tanggung jawab yang seolah-olah tidak ada jedanya sebentar saja. Ramadhan memberikan jawaban, bukan sebentar, sejenak, tapi satu bulan penuh kesempatan. Sayang kalau disia-siakan bukan? Dan, apakah di penghujungnya, kita benar-benar sudah mendapatkan ketenangan, kemenangan? Untuk jiwa, Ied Mubarak !

Riqz Leveling

Menurut Syekh Mutawalli asy-Sya'rawi , terdapat 4 level rezeki dari Allah yang mencakup materi hingga spiritual. Urutannya dimulai dari yang terendah adalah harta (materi), kesehatan (fisik), anak yang saleh (keturunan), dan ridha Allah (spiritual) sebagai yang tertinggi dan paling sempurna. Mungkinkah manusia mendapatkan semuanya? Hmm, sepertinya memungkinkan sekali bagi kita semua meraih yang ke-empat. Di stage level berapa pun saat ini, yang ke-empat lah yang paling harus diupayakan, diusahakan. No matter what! *Aseek keminggris Karena menurut sudut pandang saya, kita semua pasti diuji di ketiga level sebelumnya. Dengan goal setting untuk level up ke stage ke-empat. Jadi, paham dengan senda gurau permainan di dunia. Menjadi bekal, keyakinan yang kuat untuk menghadapi proses menuju kehidupan selanjutnya. Jangan salah dalam bersikap. Sekali, bolehlah.