Langsung ke konten utama

Postingan

Hidup Tenang

  Pernah nggak denger orang ngomong, hidup gue nggak tenang. Lah iya, elu kan punya hutang. Haha. Tapi kita nggak bahas hutang kali ini, kita bahas cara hidup tenang. Kek saya. Iya, saya, Iyain aja sih. Sebelum itu, pernah dengar juga nggak stigma . Eh, elu kayaknya harus ke psikiater . Kena mental kayaknya. Jadi selalu merasa insecure melulu karena ina inu. Padahal kalau beneran ke psikiater, disuruh curhat doang. Beneran. Saya liat di drakor , film begitu soalnya. Bilang aja elu belum pernah, iya sih. Amit - amit . Terus gimana cara elu hidup tenang, Ndri? Tentu saja dengan banyak uang wkwkwkw salah satunya. Tapi itu bukan yang utama, buktinya waktu saya jaman perjuangan juga tenang kok hidup. Karena apa? Ya karena apa pun masalahnya, dekat dengan Tuhan itu solusinya. Makanya ada shalat , dzikir , sedekah , baca Alquran , baca bismillah waktu mau aktivitas, baca sejarah umat masa lampau yang awalnya begitu, akhirnya begini. Baca tanda - tanda dan seterusnya yang bisa membuatmu ...

Ulang Tahun

  Dalam perjalanan ke suatu tempat untuk mensyukuri umur yang telah diberikan. Istri bertanya, bagaimana perasaan saya melaluinya. Ntar, kalau udah nyampe tempatnya. Kalau diceritakan disini kamu paling jawab, oh iya, Iya ya, ok. Pura - pura dengar, padahal mah sliwer kena angin. *Naek motor gaes soalnya hehe Dah nyampe ceritanya, baru saya jawab begini. Kamu ingat waktu kita salah turun stasiun di Matraman ? Ada ukhti gemes nanya rute, dan dia manggil Abang , Pak, bukannya kak. Mak deg, di momen itulah Abang merasa sudah, ah ya begitulah. Sudah sampai di level ini ternyata. Makin banyak tanggung jawab dan amanah, yang sebisa mungkin Abang tunaikan dengan sebaik - baiknya. Dan tentu, apa pun hasilnya. Terserah Gusti Allah saja. Terima kasih juga kamu sudah jadi support system yang baik, setia apapun keputusan yang Abang buat, yang syukur Alhamdulillah juga sebentar lagi salah satu 'life goal' terbesar Abang terlaksana. Oh jadi elo sekarang ulang tahun Ndri? Iya kemaren. Nggak ...

Tentang Rumah

  Ini adalah salah satu bahasan ketika JJP / JJS bareng Emak , bahwa masih ada saja tetangga yang nyinyir dengan pilihan saya ketika memilih kontrak rumah dari awal menikah. Berikut list-nya, ya saya sih bodo amat tapi sama nggak sih dengan kamu yang sesama kontraktor? *pinisirin - Kenapa nggak tinggal bareng aja sih bareng mertua, lebih hemat. - Daripada ngontrak kan mending duitnya buat DP KPR . - Gaya bet dah. Saya jawab begini, ke Emak : - Kan Emak yang nyuruh, biar bisa berdaulat atas rumah tangga saya sendiri. Doain nanti beli cash. - Yah, gimana dong. Saya kan pengen santai, nggak ribet hidup tiap hari mikirin cicilan. - Lah. Saya kan berhak milih, nyaman aman tentram. Lingkungan kondusif, dan yang paling penting dekat Masjid . Gitu kira - kira. Yah, bagaimanapun emang hidup kita yang jalanin, pasti ya dikomentarin. Emang ya, hidup santai di era sekarang adalah sebuah kemewahan.

Beban

  Yang, semakin banyak beban kok kamu malah melebar sih? Mikirin A, B, C - Z. Bukannya kurus, ceking. Lah, kan ada kamu. Belahan jiwaku. #eaaa Ya, kira - kira begitu dialog random saya dengan istri suatu sore atau pagi, saya lupa tepatnya. Dan Ini jawaban versi lengkapnya, Lah emang Abang pikirin semuanya? Mbledhos ndase. Abang kan cuma perantara saja, perannya ya begitulah. Kamu tahulah. Tak pernah khawatir, karena apa yang menjadi hak kita, bagaimanapun semuanya akan sampai. Mbuh, piye carane. Sing penting yakin. Foto : Di suatu hari, ke stasiun Manggarai buat jajan oden terus balik lagi. Sungguh random sekali.

Celana Cingkrang

  Masih ngomongin outfit, jauh sebelum ada trend bahwa celana cingkrang dinisbatkan ke kelompok tertentu, saya sudah menyukainya. Kenapa? Waktu itu, awal saya masuk Tsanawiyah . Masih banyak lalainya, haha hihinya. Lagi nongkrong di pertigaan jalan, dari Ashar menjelang Maghrib. Eh, tiba - tiba disambangi pria bersurban, dengan yak memakai celana agak cingkrang. Tapi, raut wajahnya teduh. Ramah full senyum. Nggak kek sekarang, eh. Nanti saya jelaskan di bawah hehe Pria bersurban ini saya tahu belakangan, bagian dari usaha dakwah Jama'ah Tabligh . Iya, saya tersentuh dengan model penyampaiannya. Skip, mulai dari situ saya suka celana cingkrangnya, ringkas dan nggak ribet sepertinya. Pernah setelah usia lulus Tsanawiyah saya pengen model celana saya cingkrang semua, kebetulan ibu saya penjahit, juga guru di sebuah tempat kursus jahit menjahit di Jakarta. Jadi gampang kan? Tinggal potong saja kelar urusan. Eh, tapi karena waktu itu, stigma celana cingkrang lekat dengan 'teroris r...

Kaos Oblong, Celana Sarung dan Sandal Swallow

  Masih pengen bahas tentang outfit . Tapi timeskip sebelum saya menikah. Seperti terlihat di gambar. Kurang lebih seperti itu outfit saya kemana - mana sejak Oktober 2015. Eh, kalau yang itu sudah resmi pacarannya ya. Entah kenapa istri saya ya kok mau saja ya ngeliat calon imannya modelan begitu. Nggak fashionable blas, loveable apalagi instagramable . Dari pertama bertemu di Islamic Center Bekasi , sampai mengantarkan dia balik ke Jambi . Kok ya masih tetap keukeh ya? Ternyata dia sudah mengemban misi, ketika saya tanya kemudian hari. Akan mengubah tampilan saya pelan - pelan, dan yak akhirnya berhasil sih. Hiks, runtuh sudah idealisme. Tapi pointnya, Hai jiwa - jiwa yang separuh.. Entah bagaimana absurdnya kamu saat ini, percayalah sudah ada calon yang menanti. Entah di dunia ini atau masih dalam proses sertifikasi.