Sembunyikan amalanmu sebagaimana Dia menyembunyikan aib-aibmu. Di tengah keramaian ibadah yang bisa divalidasi menjadi citra diri, sepertinya kuwot yang saya tulis di dua ribu sembilan belas diatas masih relevan, in this economy. Tentunya setiap kita, bukan, tapi saya. Tidak akan mungkin mencontoh amalan Nabi seratus persen, jangankan seratus, lima sampai sepuluh persen saja rasanya sudah, wah sekali. Maafkan kami ya Nabi. Kiranya Engkau sudi kami akui sebagai satu-satunya pemberi syafaat di Hari Akhir nanti. Ijinkan kami. Karenanya, setiap kita, eh saya maksudnya. *Iya maap, ngapain ngajak-ngajak yak Harus punya amalan andalan yang konsisten, yang mungkin tidak populer, tapi bisa kita banggakan, setidaknya. Bukan di dunia ini, murah sekali. Tapi nun jauh disana nanti. Di hadapan Pemilik Awal dan Akhir hari, dan tentunya Engkau juga wahai Nabi. Terus amalanmu apa Ndri? *Halah di awal kan udah ditulis sih, malu sama aib Ok, biar ada gambaran. Asisten saya a.k.a Kecerdasan...
Personal Blog of Andrie Whe