Langsung ke konten utama

Postingan

Tetap Menyerah Jangan Semangat

  Kata demotivasi ini sering saya dengar di closing video Mamank Kuliner . Ya memang adakalanya kita memang harus menyerah saja, pasrah. Dan tetap rebahan , jangan semangat. Kalau memang semua usaha, doa sudah dilakukan, konsisten. Tunggu saja keputusan-Nya. Nikmati prosesnya. Dunia memang lucu, kadang kita dipaksa kalah. Padahal diminta bertanding saja belum kan ya?

Mendadak Ahli

  Sekarang banyak yang jadi ahli geopolitik , geostrategis negara lain mendadak di timeline. Lah, terus kenapa? Namanya juga sosial media, nggak usah terlalu ribet gitu lah. Masa semuanya harus shitposting? Nge-bully Pemuda Pancasila wkwkwkw Kalau nggak suka kan tinggal unfollow, beres. Kaya saya, yang sering unfollow yang di sosial media keliatan tinggi, aslinya rendah. Eh apaan maksudnya? Antara perkataan dan kelakuan beda jauh. Emang ada? Ada dong Halah, emangnya lo enggak, Ndri? Hmm, saya juga masih berusaha, dan lalu teringat perkataan Ibu yang ini, Lelaki adalah dia yang bisa dipegang perkataannya.

Tujuh

  Kemiskinan yang membuat lupa.. Kekayaan yang membuat sombong, melampaui batas.. Sakit yang merusak.. Usia tua yang melemahkan.. Kematian yang cepat.. Dajjal yang sejahat - jahat dinantikan.. Kiamat yang memilukan.

Influence

      Seterkenal - kenalnya kita, pasti ada yang tidak kenal. Setidak - terkenalnya kita, pasti ada yang kenal. Saya yakin banget, makanya saya rada rajin nulis semingguan ini. Biar terkenal #lah Bukan kok, cuman mengisi dan mau menyita waktumu dengan konten random ala saya aja. Biar ada pilihan, selain nyimak 'war' para mastah , suhu yang nggak mutu, eh seru maksudnya. Demi engagement dan ujung-ujungnya jualan juga. Tapi ya gapapa juga sih, jangan dibilang memulai bahan 'war' itu gampang. Sebagai social media analysis , yang rajin baca komen. Butuh effort loh, eh skip aja ah. Nanti post ini jadi bahan juga haha Tapi intinya, mau nggak mau kita semua saling memberi pengaruh. Dan dipengaruhi, tentu saja.

Xa Wang Xie Na Wang

  Sampai sore kemarin, saya baru ngeh ketika ada teman lama yang tiba - tiba kontak. Nggak tahu kerjaan saya apaan. Kalau ada temen lama tiba - tiba kontak, nanya kabar, you know lah mau apa. Tentu saja, mau hutang Kata dia, kerjaan saya cuma ketemuan - ketemuan, makan - makan, atau guru bro? Gegara liat postingan kemarin. Memang kalau mundur 2 - 3 tahun kebelakang, saya agak kurang soal pencitraan. Jarang update soal pencapaian, apa yang sedang dikerjakan. Dan jualan. Eh, jadi ini mau jualan lagi yak!? Nggak kok. Teman saya bahkan nggak tahu lho saya jualan apaan. Wkwkwk Kamu tahu nggak? Tapi ya, memang begitu lah hidup. Se-sawang sinawang itu.

Pria Panggilan

      Semenjak Plandemic dimulai. Kata seperti bisnis online, digital marketing menjadi semakin populer. Dan lahirlah banyak workshop / kursus tentang topik tersebut, supply-demand. Mulai dari individu yang saya pribadi tidak kenal, sampai start up yang digandeng Pemerintah dengan program kartu prakerja yang, apa kabarnya ya? Gimana? Udah kaya pakar belum narasinya? Wkwkw Semua memperebutkan kue yang sama. Terus posisi saya dimana? Ya masih di rumah aja, lah. Ya, sempat kepikiran ikutan juga sih, cuman kan saya orangnya malesan, apalagi disuruh buat kurikulum pembelajaran. Mending suruh orang lain, beres. Tapi soal konsisten, jangan ditanya ya. Saya itu pemalas, tapi konsisten. Makanya ketika Google Gapura Digital nawarin jadi fasilitator, saya tertarik. Lha wong materinya sudah dibuatkan, diriset oleh tim dari sana. Saya tinggal menyampaikan saja, enak tho? Dapat update dari Google langsung, semacam ngecheat lah. Terus dibayar mahal dong? Sayangnya nggak, cuman uang tran...

Workshop

Mencoba menjawab dengan sedikit detail, ngapain sih saya kemarin - kemarin dan kemarinnya lagi di SMK . Dan lebih dari kemarinnya lagi, lebih jauh. Di Google Gapura Digital . Oh ya, ini bukan post yang ujung-ujungnya jualan. Semacam 'healing' buat saya mengisi kekosongan timeline . Semuanya terjadi secara kebetulan, berawal dari keisengan menantang diri keluar dari zona nyaman . Pas dengan datangnya email undangan menjadi fasilitator Google Gapura Digital, waktu itu di tahun 2017. Maka yang terjadi, terjadilah. Yang kutahu Tuhan... Eh sebentar. Iya, terjadilah saya yang cupu, megang mic masih gemetar, bisa cas cis cus ngomong di depan orang banyak. Pakai celana sarung , kaos, sendal merk Eiger ( kali di endorse ). Nggak grooming sama sekali, demi idealisme yang akhirnya luluh lantak setelah mempunyai belahan jiwa. Terus ya sudah, akhirnya dikenal. Ada yang ngundang, ada yang ngasih ide bikin workshop, ada juga yang nawarin jadi Guru tetap di sebuah SMK. Ada juga yang nyiyir, i...

Layangan Putus

Waktu kemarin sunmori bareng Emak , ngeliat layangan putus tapi kok nggak ada yang ngambil jadi bikin mikir. Jamanku dulu kalau ada layangan putus, pasti dioyak - oyak sampai dapat. Lha, jamanku dulu juga gitu Mak. Lho, satu jaman dong? Hahaha Mungkin waktu itu memang generasi kita lebih menghargai sesuatu ya? Sedangkan generasi sekarang lebih abai, atau malah kurang bersyukur dengan kemudahan yang sudah ada? Bisa jadi Mak, lha wong anakmu ini sampai jualan layangan sama benangnya dulu biar bisa maen layangan gratis.. hehe Terus jadi inget kata - kata lama ini jadinya dari obrolan sambil jalan itu, Barangsiapa yang meminta kecukupan, maka Dia akan mencukupkan bagiannya.   Rasa cukup memang bisa memantik kesyukuran , dan saya sangat bersyukur sekali dengan harta yang tak ternilai ini. Yang bernama.. Waktu.

Stoikisme

Kalau bahasa lampaunya, mungkin.. Hingga pujian dan cacian tidak ada bedanya. Karena apa pun yang terjadi di luar, tidak sepenting dengan yang terjadi di dalam. Mungkin sejak SD saya sudah menganut paham ini, karena di saat ledek - ledekan nama bapak, saya tidak pernah balik membalas hehe Kelihatan tidak punya ambisi. Kelihatan banget dari mimik muka, cara berjalan , gestur apa pun yang bisa dilihat orang lain. Saya sudah sibuk dengan diri saya sendiri. Bahkan sampai saat ini. Mencoba bersyukur dari hal - hal kecil, setiap hari. Well, konten seperti ini memang jarang trending, sayangnya.

Siapa?

Ini pertanyaan menarik, dan saya sudah selesai dengan diri sendiri sejak umur 20-an. Saya juga sempat 'galau' ketemu orang takut, minder, tidak percaya diri di usia sehabis menyelesaikan pendidikan formal di Madrasah Tsanawiyah . Terus gimana caranya? Mulai dari pertanyaan, kita ini siapa dan mau kemana? Dan saya akhirnya menjalani apa saja yang ada di depan saya saat itu, apa saja. Beneran. Pada suatu titik saya menemukan apa yang saya sukai, lalu tekuni. Karena setiap kita punya kecenderungan, ini sudah ditulis sebelum kita lahir, jauh disana.   Dan saya tercerahkan dengan penjelasan 'seseorang' dengan perkataan ini :   Kita mau menghadap Tuhan nanti sebagai apa? Presiden? Orang yang mengambil tanggung jawab dalam keluarga ? Orang yang mengurusi urusan orang banyak? Orang biasa saja yang penting tidak merugikan orang lain? Dan lain seterusnya…. Udah, gitu aja. 😌

Kehendak

Semua yang terjadi sudah kehendak Tuan.. Tidak ada yang baru di bawah langit-Nya, semua berulang.. Wahai hamba sahaya.. Tuan menjauhkan engkau dari rumah-Nya.. Mungkin karena ketika di dalamnya engkau tidak membawa hatimu kesana.. Sibuk karena ini - itu urusan dunia yang tidak ada habisnya.. Mungkin, semuanya mungkin.. Dan engkau harus dijauhkan agar rindu dan khusyuk itu datang.. Diasingkan agar tahu, engkau bukanlah apa - apa..  Wahai hamba sahaya..

Pengakuan

Mereka mengaku kekasih - kekasih, Tuan.. Tapi entah kenapa hamba tidak merasakannya.. Mereka mengaku kekasih - kekasih, Tuan.. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang hilang.. Mereka mengaku kekasih - kekasih, Tuan.. Tapi entah kenapa.. Apa karena hamba yang biasa - biasa saja? Atau karena sekedar mengaku - aku saja? Tuan, ampuni hamba.. Image by : Myriams-Fotos