Langsung ke konten utama

Bicara Anak

 


Waktu masih jomblo, pertanyaan yang paling sering saya dapatkan pastinya,

Kapan nikah?

Banyak sejarah pembullyan, shitposting di timeline saya, dan pasti komentar selalu ramai

Setelah menikah, pertanyaannya berganti, dan tentu saja sudah bisa ditebak.

Sudah punya anak belum?

Dan perkara pertanyaan ini sudah lumrah sekali di masyarakat Indonesia yang ramah tamah, tepo sliro, gemah ripah lohjinawi.

Syukur alhamdulillah, Gusti Allah belum ngasih saya amanah dan titipan, rezeki dalam bentuk seorang anak. Kalau dalam bentuk lain, buanyak.

Tapi ada juga pernyataan yang bisa bikin sakit hati, terutama untuk istri. Semacam ini,

- Buat apa duit banyak, kalau bukan buat anak.
- Tinggal berdua aja, ngurusin kucing. Nggak sepi emang.
- Dan seterusnya..

Tapi untuk saya pernyataan seperti itu mah, fine - fine aja. Bodo amat, saya kan cuma peserta.

Peserta dalam ujian-ujian, yang kebetulan salah satu soalnya tentang menunggu..

Seperti Ibrahim dan Sarah merindukan Ismail. Yang kemudian menyusul Ishak. Eh, tapi harus nikah dengan Hajar dulu yak? *bisa aja elo Ndri

Jadi untuk teman-temanku yang menjaga sikapnya, mensupport, bahkan ketika kopdar agak risih ketika membahas tentang seorang anak ini, nggak perlu nggak enak hati ya.

Eh, soal usaha bikinnya gimana Ndri? Ya, enak sih.. wkwkwk

Percayalah, saya sudah berusaha semaksimal mungkin.

Soal hasilnya bukan urusan saya kan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaos Oblong, Celana Sarung dan Sandal Swallow

  Masih pengen bahas tentang outfit. Tapi timeskip sebelum saya menikah. Seperti terlihat di gambar. Kurang lebih seperti itu outfit saya kemana - mana sejak Oktober 2015. Eh, kalau yang itu sudah resmi pacarannya ya. Entah kenapa istri saya ya kok mau saja ya ngeliat calon imannya modelan begitu. Nggak fashionable blas, loveable apalagi instagramable. Dari pertama bertemu di Islamic Center Bekasi, sampai mengantarkan dia balik ke Jambi. Kok ya masih tetap keukeh ya? Ternyata dia sudah mengemban misi, ketika saya tanya kemudian hari. Akan mengubah tampilan saya pelan - pelan, dan yak akhirnya berhasil sih. Hiks, runtuh sudah idealisme. Tapi pointnya, Hai jiwa - jiwa yang separuh.. Entah bagaimana absurdnya kamu saat ini, percayalah sudah ada calon yang menanti. Entah di dunia ini atau masih dalam proses sertifikasi.

29 Night

Wahai penguasa hati.. Ampunan - Mu.. Wahai penguasa hati.. Mohon rahmat - Mu.. Kemana lari? Kemana kembali? Jika bukan pada - Mu? Jika bukan pada cahaya dari - Mu.. Wahai penguasa hati.. Ampunan - Mu.. Wahai penguasa hati.. Mohon rahmat - Mu.. Image by : Thomas Schattan

Empat Klasifikasi Manusia

Ba'da subuh, seperti kebiasaan yang semoga menjadi kebiasaan. Kami ( saya dan istri ) membaca kitab Tarjamah Riyadhus Shalihin dan telah sampai di bab ke 60. Dan kami membaca sebuah hadist yang menarik. Kenapa? Karena hadist ini menerangkan sejelas - jelasnya siapa itu kita? Manusia. Berikut saya tuliskan tarjamahnya, semoga memberi pencerahan ( terutama kepada penulis ). Empat Klasifikasi Manusia Dan aku akan menyampaikan satu perkataan kepada kamu, maka hafalkanlah! Beliau bersabda: Sesungguhnya dunia itu untuk 4 orang: 1. Hamba yang Allâh berikan rezeki kepadanya berupa harta (dari jalan yang halal) dan ilmu (agama Islam), kemudian dia bertakwa kepada Rabbnya pada rezeki itu (harta dan ilmu), dia berbuat baik kepada kerabatnya dengan rezekinya, dan dia mengetahui hak bagi Allâh padanya. Hamba ini berada pada kedudukan yang paling utama (di sisi Allâh). 2. Hamba yang Allâh berikan rezeki kepadanya berupa ilmu, namun Dia (Allâh) tidak memberikan rezeki b