Langsung ke konten utama

Membangun kembali hati..

Membangun kembali hati..
Menguatkannya, merekatkannya akan jiwa..
Di saat kehancuran menerpa..
Di kala ia jatuh, retak lalu pecah..
Menyusun kembali..
Tak peduli walau seperti puzzle yang rumit..
Tak peduli berapa lama menyatukannya satu demi satu..
Walau tahu bencana masa atau apa pun pasti menghancurkannya lagi..
Lagi..
Dan lagi!
Karena setidaknya kita sudah belajar..
Menyusun, menyatukan, merekatkan dan membangunnya lagi..
Karena telah biasa..
Dengan lebih cepat, mudah..
Karena ini hanya bagian permainan..
Permainan yang dimainkan atas banyak manusia..
Untuk menguji, mengetahui siapa yang terbaik di antara mereka, kita semua..
Untuk mengajari hati kita akan nilai kehidupan..
Nilai yang akhir-akhir ini begitu usang..
Nilai-nilai yang saat ini begitu kasat..
Jadi jangan takut hancur..
Takutlah bila kita tidak bisa membangun, menguatkannya lagi..

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Sama brother.
    Menambahkan. sifat marah adalah fitrah manusia. semua bisa marah perbedaannya adalah sebagian ada yang melampiaskan kemarahannya sebagian lagi seperti yang dicontohkan baginda Nabi SAW, menahannya. WaAllahua'lam

    BalasHapus
  3. Maaf bro ini komentar untuk postingan change your views!

    BalasHapus
  4. oh, ko' bisa kesasar kesini?!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komentar

  Apa semua hal perlu dikomentari? Atau kita tunggangi untuk keperluan eksistensi? Dulu saya begitu, nggak ada kerjaan emang wkwkwwk Apa saya harus kasih solusi, sedangkan yang punya masalah nggak minta solusinya. Apa saya harus menjawab, kalau yang ngasih pertanyaan saja nggak ada. Apa saya harus berkomentar, sedangkan yang dikomentari saja.. terusin sendiri. Emang pinter si mang Mark Zuckerberg nanya melulu apa yang kita pikirkan. Kepo banget Adakalanya menjadi pengamat komentar lebih seru, makannya kerjaan saya sekarang namanya.. Social Media Analysis. Keren yak? Padahal bahasa Indonesianya, Tukang Baca Komentar.

Merak.. ( Dedicate to Wahyu Sulaiman Rendra )

pagi ini, 7 agustus 2009.. burung merak itu meninggalkan sarang.. bukan terbang sementara.. terbang menuju keabadiaan.. meninggalkan begitu banyak kata, sajak dan bait puisi, yang penuh nilai.. akankah datang pengganti? pangganti yang menelurkan kata, sajak dan bait puisi sarat makna dan nilai sepertinya.. selamat jalan, terbang menuju langit yang maha tinggi.. kami akan bertemu denganmu kelak, nanti.. semoga dirimu, ruhmu berdamai dan cukup dengan keyakinan yang kau pilih.. selamat jalan.. Dibuat tepat ketika mendengar kabar kepergiannya. Eastearth, 070809.

Sakit, hati..

Perasaan apa ini, sakit sekali tanpa tahu dimana asal datangnya.. Bagaimana aku menjelaskan, sementara aku pun kebingungan.. Kalau sakit hati karena seseorang, itu akan mudah.. Mudah, ada tempat yang bisa disalah-salahkan.. Bagaimana kalau penyebabnya saja tidak jelas? Apa aku ingin diperhatikan? Apa aku ini kurang diperhatikan? Atau aku sedang mencari perhatian? Atau mungkin aku ini kurang kerjaan? Wahai Engkau Sang Pemilik Hati.. Jagalah hati kami.. Agar ia tidak berpaling.. Tenangkanlah hati kami yang gusar.. Gusar karena dunia.. Gusar karena musuh abadi yang selalu lembut menghasut.. Cukupkanlah ia hanya dengan hati-Mu..