INDONESIA INCORPORATED - MANIPULASI ISU LINGKUNGAN GLOBAL (BOOK NO. 4)

by 11:36:00 am 0 komentar

CHAPTER 82 - 83

ANGGABAYA bertanya, “Kau tahu dari mana asal kata ‘Ibu Pertiwi’?”
Endo tertegun, mencoba mengingat-ingat sesuatu di bangku sekolah namun tidak ada memori yang tertinggal tentang hal itu. “Katakan padaku, Jenderal.”

“Konsep Ketuhanan Perempuan atau Sacred Feminine, dalam agama Hindu disebut Shaktism adalah salah satu dari tiga wujud Tuhan selain Wisnu dan Shiwa. Dalam perkembangan mitologinya Sacred Feminine, yang juga dikenal dalam novel Dan Brown paling populer, The Da Vinci Code disebut sebagai representasi Holy Grail dan Mary Magdalene. Ini menggali lebih dalam model phanteism sebelum era Christianity tentang Ketuhanan perempuan. Sebuah kepercayaan yang sangat tua namun terus dipelihara dan dijaga sampai saat ini.

“Pada perkembangannya konsep ini melahirkan berbagai ajaran tentang feminisme dan kesetaraan gender. Pemujaan lelaki terhadap perempuan telah bermula sejak Adam tergoda bujuk rayu Hawa yang mengakibatkan mereka terlempar dari surga. Seiring berlalunya waktu, konsep Sacred Feminine disadari atau tidak menjadi representasi para elitis dalam meng-inkarnasi hakikat kaum perempuan serta mengembalikan posisi alamiah mereka sebagai dewi yang dipuja sekaligus yang memberikan kehidupan pada bumi. Konsep ini diadopsi dalam literatur bahasa yang kemudian melahirkan kata ‘Ibu Pertiwi’ atau ‘Mother Earth’”

Setelah pemuda tadi memahami penjelasan tersebut, Anggabaya bertanya, “Kau menonton Avatar?”
“Pasti. Itu film blockbuster favoritku.” Endo menanggapi.
“Seperti Matrix, film Avatar menawarkan padamu kehidupan kembali yang disebut sebagai Tatanan Dunia Baru. Dunia nyata dan dunia khayalan, red pill—blue pill. Itu adalah sebuah impian, menghidupkan Pandora. Agar kau ketahui, Pandora adalah nama dewi pagan kuno yang kekuasaannya dihancurkan oleh patriarki. Secara etimologi, Pandora juga berarti ‘memberikan dengan sepenuh hati’ dan ini merupakan refleksi dari Mother Earth itu sendiri. Konsep film Avatar menjelaskan bahwa Pandora adalah planet di mana kaum Na’vi hidup bersama hutan dan lingkungannya. Dewi mereka disebut Eywa atau Gaia, Ibu yang Agung. Para pemimpin dalam sivilisasi ini adalah kaum perempuan yang memberikan kekuasaan Ketuhanan kepada dewi mereka. James Cameron berhasil menitipkan pesan subliminal kepada jutaan penonton di seluruh dunia bahwa manusia adalah bagian dari kehancuran itu sendiri. Intervensi manusia kepada kaum Na’vi yang begitu menjaga dan memelihara lingkungannya merupakan pengakuan yang harus diterima oleh sebagian besar orang bahwa manusia adalah penyebab terjadinya kerusakan lingkungan. Kita menyalahkan diri kita sendiri. Pada tataran ini aku memahami bahwa manusia memang terlibat dalam sejumlah kerusakan di muka bumi. Akan tetapi bukan itu pokok masalahnya.

“Dalam konsep pemanasan global kita berbicara dalam skala universal, dan seperti yang sudah kujelaskan padamu, pengaruh keterlibatan manusia terhadap destruksifikasi alam sehingga mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu bumi tidak sebesar apa yang diakibatkan oleh faktor-faktor lain seperti aktifitas matahari, uap air dan emisi gas rumah kaca lainnya. Akan tetapi film Avatar telah mengetuk palu untuk melegalisasi kesalahan manusia lalu menawarkan harmonitas dalam kebersamaan, di bawah sebuah manifesto yang harus disepakati oleh seluruh umat manusia di muka bumi. Manifesto itu adalah menghormati tradisi-tradisi lama yang menjaga keseimbangan antara populasi manusia dengan alam, bersatu untuk membangun budaya baru, kedamaian dan keadilan, mendukung kebebasan beragama dan ekspresi-ekspresi spiritual serta mengajak lebih banyak manusia dalam partisipasi global untuk memulai Tatanan Dunia Baru.

Manipulasi isu lingkungan dalam film terlaris sepanjang sejarah, Avatar
Diktum-diktum ini persis seperti apa yang dipahat dalam prasasti batu Georgia Guidestone.
 
“Ketika kaum Na’vi berucap ‘I see You’ dalam bahasa Pandora ia mengatakan ‘Namaste’, kata ini serupa dengan frasa Hindi yang berarti ‘the divine in me sees the divine in you’. Kau tahu, agama Hindu salah satu agama besar dengan konsep phanteism yang sangat berakar. Phanteisme adalah model Ketuhanan yang memberikan hakikat plural pada dzat Tuhan. Bahwa Tuhan berada di mana-mana, dan segala sesuatu itu bagian dari Tuhan.”
“Baiklah, jadi Avatar adalah kampanye tiga jam tentang propaganda lingkungan dan penghancuran iman.” Urai Endo,  “Nah, mari kembali pada pernyataan Anda sebelumnya, bahwa isu lingkungan ini berkaitan dengan Teori Evolusi yang sudah dibangun sejak zaman Victoria.”


“Menurut para environmentalis, Mother Earth…” jelas Sang Jenderal, “atau ibu pertiwi memiliki struktur dan cara tertentu untuk mengelola dirinya sendiri, dan manusia bertanggung jawab menjaga serta memelihara apa yang telah diberikan oleh Sang Ibu, The Sacred Feminine, agar bumi dan manusia berjalan seimbang dalam harmoni. Nah, pada titik ini ketika Tuhan Sang Pencipta tidak lagi dilibatkan dalam pemikiran heretik manusia maka Teori Evolusi, sekali lagi mendapatkan pengakuan dari umat manusia bahwa seluruh yang hidup berada dalam siklus yang terus tumbuh dan bergerak, merestorasi kehidupannya sendiri, karena materi tidaklah diciptakan, namun ia ada dengan sendirinya sehingga campur tangan Tuhan tidak lagi dapat dibuktikan.”

Prasasti batu Georgia Guidestone
Buku Gaia, yang menjadi rujukan teologi ketuhanan para Environmentalis

We are part of Nature and Nature is part of us, therefore God is part of us, and God is everywhere, and everything is God –  Konsep Pantheism Buku Gaia oleh Sir James Lovelock. Buku ini digunakan sebagai panduan environmentalis dalam mengkampanyekan isu lingkungan global.




Jadi kemana semua ini bermuara? Agenda lingkungan, pemanasan global, perubahan iklim, kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh manusia sehingga mahluk yang dijadikan khalifah di muka bumi ini harus dihukum. Konsep ini terlalu besar untuk dapat dipercaya sebagai sebuah propaganda. Terlalu tidak masuk akal dan terlalu naïf. Bukankah manusia memang terlibat dalam kerusakan itu sendiri? Tidak diragukan lagi, setiap komponen kemanusiaan mengakui hal itu. Manusia telah membuat perang, menghabiskan sumber daya alam, menghancurkan ekosistem, merusak atmosfer dan melubangi ozon, mereka juga membunuh sesama, memutus hubungan spiritual dengan bumi, mengingkari Gaia.

Kenapa model yang dikembangkan para elitis harus berputar pada isu lingkungan?

Anggabaya mengulangi pertanyaan Endo, “Kenapa model yang dikembangkan para elitis harus berputar pada isu lingkungan?” kemudian menjawabnya, “Karena lingkungan itu sendiri adalah sumber kehidupan, Anakku. Lingkungan itu adalah bumi, tempat aku dan kau berpijak. Tempat di mana tujuh miliar orang hidup dan beranak pinak. Isu lingkungan adalah isu tentang bumi, bahan bakarnya adalah pemanasan global dan penjahatnya adalah manusia. Mereka sedang menciptakan perang, dan karena itu skalanya harus global, bukan lagi regional seperti era dua perang dunia sebelumnya.

Bila kita membahas topik tertentu mengenai bumi maka kau tidak akan bisa melepaskan satu keping pun lini-lini kehidupan darinya. Kau harus membahas persoalan pokok mengenai makanan, dan kontrol makanan adalah bagian dari propaganda ekonomi yang kemudian melahirkan penguasaan jalur distribusi dari hulu ke hilir melalui pemusnahan hewan ternak menggunakan isu pandemi flu burung, flu babi, anthrax dan lain sebagainya.

“Selain itu kau harus mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan transportasi, karena kendaraan apa pun itu berperan serta memproduksi emisi. Dan polusi dari kendaraan bermotor telah menjadi salah satu penyebab terbesar efek gas rumah kaca. Pada titik ini, pemerintah harus mengikuti langkah-langkah yang ditetapkan bersama dalam Protokol Kyoto. Itu berarti pemerintah harus membuat kebijakan berkenaan dengan persoalan ini dan mengatur bagaimana kau menggunakan kendaraanmu secara bijaksana. Kemudian jika itu berkenaan dengan transportasi maka sumber-sumber pokok kehidupan lainnya akan berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Infrastruktur, retail, perumahan, jasa, distribusi makanan serta hubungan antar manusia. Transportasi adalah faktor vital yang mempengaruhi ekonomi sebuah negara.

“Pabrik dan industri juga bertanggung jawab terhadap asap yang luruh ke ozon, termasuk produk bernama rokok yang dihisap miliaran orang di seluruh dunia. Kaum industrialis adalah golongan manusia yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap tingginya pelepasan CO2 di atmosfer, sehingga mereka juga menjadi pihak yang paling keras melawan isu lingkungan ini.

“Faktor ekonomi, tentu merupakan salah satu motif terbesar dalam propaganda ini. Karena itulah regulasi cap dan trade serta perdagangan karbon ditetapkan. Negara yang mengeluarkan emisi lebih kecil bisa menjual karbonnya di pasar karbon kepada negara-negara industri. Indonesia adalah bagian dari perjanjian itu sendiri. Program REDD memungkinkan Indonesia menjual jatah karbon yang tidak terpakai kepada negara-negara besar. Yang menarik, negara-negara besar tidak dibebani dengan sanksi dan hukuman apabila mereka gagal mengurangi emisi gas rumah kaca selain membayar pajak karbon dan membeli kelebihan karbon melalui perdagangan karbon. Sehingga negara industri yang memiliki banyak uang bisa dengan mudah membeli karbon milik negara-negara berkembang.

“Konstelasi politik menjadi sasaran tertentu para elitis dan environmentalis dunia karena panggung politik harus diciptakan seirama dengan agenda-agenda yang sudah dirancang sedemikian rupa. Ingat, isu lingkungan ini bukan hal baru. Agenda ini dibangun sejak tahun 1970-an oleh para elit environmentalis Club of Rome. Selama empat-lima dekade kemudian pemimpin negara-negara berkembang dan negara ketiga haruslah mereka yang mendapatkan persetujuan para elit internasional.

Gaia, dewi Yunani kuno yang menjadi simbol Ibu Pertiwi. Poster-poster ini laris dikampanyekan saat Konferensi Lingkungan, termasuk di Bali beberapa tahun lalu. Gaia-thesa adalah cikal bakal model teologi yang diusung Environmentalis.
“Hingga akhirnya, Anakku, bagian terpenting dari propaganda ini akan menyentuh urat nadimu, menghisap darahmu dan meninggalkanmu dalam keadaan tak berdaya. Program ini akan berakhir pada kontraksi ideologi. Program ini akan menghidupkan kembali sosialisme dan atheisme yang dianggap telah mati setelah kapitalisme meruntuhkan Uni Sovyet. Program ini merubah cara pandangmu sehingga mempengaruhi keyakinan dasarmu sebagai umat manusia terhadap model Ketuhanan yang hakiki. Agama adalah pondasi, bila kau bertahan dengannya maka kau tetap punya peluang untuk menata kehidupan ini dengan lebih baik dan menghancurkan siapa pun musuh-musuhmu. Namun bila keyakinanmu berubah karena implikasi dari bersatunya umat manusia dalam harmoni keseimbangan alam, keinginan untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang baru yang mengatur agama dan cara pandangmu maka kau akan menjadi bagian dari hamba sahaya yang diciptakan melalui konsep artificialoleh para environmentalis. Kau akan kehilangan segala-galanya. Kau akan menjadi model terbaru dari kepercayaan phanteisme Gaia-Thesa.
“Ingatlah bahwa missing link dalam Teori Evolusi itu adalah cara berpikirmu. Dogma inilah yang hilang dari mata rantai galur kehidupan. Bukalah matamu, dan belajarlah melihat dari sudut pandang yang berbeda. Karena kau harus tahu, bahwa program lingkungan ini memiliki target dan sasaran.” Anggabaya berhenti sebentar, memastikan Endo memahami apa yang disampaikannya sekaligus memastikan jawabannya tepat sasaran.

Tidak lama setelahnya Jenderal mengetuk dadanya dengan telunjuk. Ia berkata, “Pada setiap desah nafasmu, Anakku, ada uang yang harus kau bayarkan pada para environmentalis ini. Mengapa?Karena pada setiap hembusan nafas itu kau telah memproduksi CO2 yang semuanya diatur dalam pajak karbon. Setiap detik kehidupanmu adalah milik orang-orang ini, mereka yang menguasai jiwa ragamu. Seperti inilah cara mereka memerangkap kebebasanmu dan memintal tubuhmu dalam peti mati.” 

Lalu apa hubungannya semua program ini dengan negara tercinta, Indonesia?
Please read INDONESIA INCORPORATED, “Ingatlah bahwa missing link dalam Teori Evolusi itu adalah cara berpikirmu. Dogma inilah yang hilang dari mata rantai galur kehidupan. Bukalah matamu, dan belajarlah melihat dari sudut pandang yang berbeda. Karena kau harus tahu, bahwa program lingkungan ini memiliki target dan sasaran.” Anggabaya berhenti sebentar, memastikan Endo memahami apa yang disampaikannya sekaligus memastikan jawabannya tepat sasaran.

Tidak lama setelahnya Jenderal mengetuk dadanya dengan telunjuk. Ia berkata, “Pada setiap desah nafasmu, Anakku, ada uang yang harus kau bayarkan pada para environmentalis ini. Mengapa?Karena pada setiap hembusan nafas itu kau telah memproduksi CO2 yang semuanya diatur dalam pajak karbon. Setiap detik kehidupanmu adalah milik orang-orang ini, mereka yang menguasai jiwa ragamu. Seperti inilah cara mereka memerangkap kebebasanmu dan memintal tubuhmu dalam peti mati.” 

Lalu apa hubungannya semua program ini dengan negara tercinta, Indonesia?
Please read INDONESIA INCORPORATED, Zaynur Ridwan.




Andrie Whe

Seseorang yang ini terus bernilai!

Ketika senang datang, aku menikmatinya.. Ketika susah datang, aku berusaha menikmatinya.. Dan ketika susah itu terlalu menyakitkan lalu emosiku kalah telak, aku andalkan sisi spiritualku untuk mengakses nilai yang lebih tinggi yang terdapat di dalamnya.. Dan semua menjadi sederhana dibuatnya..

Post a Comment